Jakarta – Pemerintah China mengambil langkah strategis dengan menahan laju kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah lonjakan harga energi global. Kebijakan ini ditempuh untuk meringankan beban masyarakat sekaligus menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Mengacu pada laporan Merdeka.com, keputusan tersebut diambil setelah harga minyak dunia melonjak akibat konflik geopolitik yang berdampak pada terganggunya distribusi energi global, termasuk di jalur vital Selat Hormuz.

Awalnya, harga bensin dan solar di China direncanakan naik masing-masing sebesar 2.205 yuan dan 2.120 yuan per ton. Namun pemerintah memangkas kenaikan tersebut hampir setengahnya, menjadi 1.160 yuan untuk bensin dan 1.115 yuan untuk solar.

Kebijakan ini dinilai penting mengingat lebih dari 300 juta pengguna kendaraan di China bergantung pada BBM. Selain itu, kenaikan harga energi telah mendorong antrean panjang di sejumlah SPBU karena kekhawatiran masyarakat terhadap lonjakan harga.

Di sisi lain, China juga memperkuat ketahanan energi dengan meningkatkan impor minyak mentah sebesar 16 persen pada awal 2026 serta memanfaatkan cadangan strategis dalam jumlah besar untuk meredam gejolak harga.

Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), Assoc. Prof. (Hon.) R. Beniadi Setiawan, ST, MM, Ph.D., menilai langkah China sebagai contoh nyata bagaimana kebijakan energi berdampak langsung terhadap kelancaran rantai pasok.

BBM Jadi Penentu Stabilitas Rantai Pasok, harga BBM merupakan komponen krusial dalam sistem logistik. Kenaikan harga bahan bakar akan meningkatkan biaya transportasi, distribusi, hingga harga barang di tingkat konsumen.

Beniadi Setiawan memandang langkah kebijakan China sebagai upaya menjaga efisiensi rantai pasok. Stabilitas harga BBM akan menahan lonjakan biaya logistik dan mencegah inflasi berantai,”.

Kondisi global yang sama berpotensi memberi tekanan pada Indonesia, terutama karena ketergantungan terhadap impor minyak dan fluktuasi harga energi internasional.

Dampak yang mungkin terjadi antara lain:

  • kenaikan biaya distribusi barang,

  • tekanan pada harga pangan dan kebutuhan pokok,

  • serta peningkatan inflasi yang dapat menurunkan daya beli masyarakat.

Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi situasi ini melalui kebijakan yang adaptif, seperti menjaga stabilitas harga BBM, memperkuat cadangan energi, dan meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional.

Langkah China menahan kenaikan harga BBM menunjukkan pentingnya peran negara dalam meredam dampak gejolak energi global.

Bagi Indonesia, kebijakan tersebut menjadi pengingat bahwa stabilitas energi tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga menentukan ketahanan rantai pasok dan kestabilan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Post: iarsi.org