Jakarta - Pemerintah memproyeksikan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia berlanjut memasuki 2026 meski menghadapi perlambatan global. Dalam dokumen Outlook Ekonomi 2026 yang dirilis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, disebutkan bahwa perekonomian tumbuh 5,11 persen pada 2025, didorong oleh kombinasi permintaan domestik yang kuat dan pemulihan ekspor nonmigas. Kinerja komponen utama juga menunjukkan perbaikan: konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen, investasi meningkat 5,09 persen, sementara ekspor tercatat tumbuh 7,03 persen; sektor manufaktur dan pertanian masing‑masing tumbuh 5,30 persen dan 5,33 persen, menegaskan peran kedua sektor itu sebagai penggerak produksi. Pemerintah menargetkan pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2026 dengan angka sasaran 5,4 persen, yang akan dicapai melalui kombinasi lima pilar permintaan dan tiga sektor penggerak produksi.
Perbaikan makroekonomi itu juga tercermin pada indikator sosial yang terus membaik. Data resmi menunjukkan tren penurunan angka kemiskinan dan rasio Gini, sementara tingkat pengangguran bergerak menurun seiring peningkatan penyerapan tenaga kerja dari realisasi investasi; sepanjang 2025 realisasi investasi disebut berhasil menyerap 2,71 juta tenaga kerja baru. Pemerintah menekankan bahwa pertumbuhan yang inklusif menjadi fokus utama, sehingga program‑program sosial dan ketenagakerjaan dipadukan dengan kebijakan fiskal yang menjaga defisit di bawah ambang batas yang ditetapkan.
Strategi kebijakan untuk 2026 menempatkan ketahanan pangan, energi bersih, transformasi ekonomi, dan akselerasi produktivitas sebagai poros utama. Dokumen menyebutkan sejumlah sektor prioritas—pertanian (dengan hilirisasi dan ketahanan pangan), industri manufaktur (revitalisasi padat karya), digital (data center dan gig economy), serta energi (transisi dan ketahanan energi)—yang akan didukung oleh pembiayaan PMA dan skema pembiayaan non‑APBN melalui Danantara. Selain itu, program prioritas presiden seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih (KDKMP), dan pembangunan 3 juta rumah diposisikan tidak hanya sebagai program sosial tetapi juga sebagai stimulus permintaan dan penciptaan lapangan kerja; dokumen menyebutkan target anggaran dan cakupan penerima untuk program‑program tersebut.
Di sisi institusional dan pasar keuangan, pemerintah dan otoritas terkait mendorong reformasi tata kelola pasar modal untuk memperdalam pasar dan menarik arus modal masuk. Outlook mencatat rebound indeks saham dan penguatan nilai tukar yang didukung langkah‑langkah seperti peningkatan batas kepemilikan saham oleh dana pensiun dan asuransi pada saham LQ45, peningkatan transparansi pemegang saham, serta percepatan demutualisasi bursa. Di ranah diplomasi ekonomi, upaya membuka akses pasar melalui perjanjian perdagangan komprehensif (CEPA) dengan Uni Eropa, Kanada, dan kawasan Eurasia serta proses aksesi ke beberapa perjanjian multilateral disebut sebagai bagian dari strategi memperluas pasar ekspor di tengah dinamika geoekonomi global.
Pemerintah menegaskan bahwa pencapaian target 2026 bergantung pada keberlanjutan reformasi struktural, sinergi kebijakan fiskal dan moneter, serta efektivitas pelaksanaan program prioritas. “Pertumbuhan Ekonomi Tumbuh Solid 5,11% di tahun 2025,” tulis dokumen Outlook Ekonomi 2026, dan dokumen itu juga menegaskan bahwa “POTENTIAL GROWTH 5,4% - 5,6%” dapat dicapai melalui realisasi proyek‑proyek investasi Danantara serta implementasi program prioritas pemerintah. Dengan landasan tersebut, pemerintah optimistis bahwa Indonesia dapat mempertahankan lintasan pertumbuhan yang lebih tinggi sambil memperkuat aspek inklusivitas dan ketahanan ekonomi.
Red.