BEKASI – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah responsif Pemerintah dalam mempercepat konversi energi nasional. Melalui penugasan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Pemerintah dinilai tengah membangun fondasi baru bagi kemandirian energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Langkah strategis ini mencuat dalam rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (19/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa Presiden telah memberikan arahan tegas agar penggunaan Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Diesel (PLTD) segera dikonversi menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

"Danantara telah diberi mandat khusus untuk menangani persoalan PLTD tersebut," ujar Airlangga.

Fokus pada Wilayah 3T

Wakil Menteri ESDM, Yoliot Tanjung, menjelaskan bahwa prioritas utama program konversi ini menyasar wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Lokasi-lokasi seperti Simeulue, Nias, Mentawai, hingga Enggano masuk dalam radar utama. Hingga saat ini, Pemerintah telah mengantongi lebih dari 30 lokasi prioritas yang siap dieksekusi dalam waktu dekat.

Percepatan ini juga dipicu oleh dinamika harga minyak dunia yang terus melambung. Dengan melakukan perhitungan cermat, Pemerintah optimis peralihan energi ini akan menekan beban subsidi dan meningkatkan efisiensi fiskal negara secara signifikan.

Ekspansi Waste-to-Energy (WtE)

Selain konversi PLTD, Danantara bergerak cepat dalam pengelolaan sampah menjadi energi. Director of Investment Danantara Investment Management, Fadli Rahman, menyatakan pihaknya telah membuka pendaftaran gelombang kedua bagi perusahaan yang berminat menjadi mitra proyek Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). "Pembukaan pendaftaran baru ini merupakan bagian dari upaya Danantara dalam memperluas partisipasi perusahaan nasional maupun global. Setelah gelombang pertama di Bekasi, Denpasar Raya, Bogor Raya, dan Yogyakarta sukses menarik minat investor internasional, kami ingin bersama-sama menyelesaikan isu darurat sampah nasional melalui infrastruktur modern," jelas Fadli.

Analisis Ahli Rantai Suplai: Rantai Pasok Energi Sebagai Jantung Pertahanan Ekonomi

Menanggapi dinamika tersebut, Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., memberikan analisis mendalam dari perspektif manajemen rantai suplai global. Menurutnya, langkah Pemerintah melalui Danantara bukan sekadar urusan teknis kelistrikan, melainkan strategi penguatan supply chain resilience (ketahanan rantai pasok) nasional.

"Konversi PLTD ke PLTS, terutama di wilayah 3T, secara otomatis akan memangkas kompleksitas logistik distribusi BBM yang selama ini sangat mahal dan berisiko tinggi. Dengan beralih ke sumber energi lokal seperti matahari dan sampah, kita sedang mengurangi ketergantungan pada rantai pasok energi fosil yang sangat fluktuatif akibat tekanan geopolitik global," ujar R. Beniadi Setiawan.

Beliau menambahkan bahwa keterlibatan Danantara sebagai investment powerhouse memberikan kepastian bagi para investor dan pelaku industri rantai suplai untuk ikut serta dalam pembangunan infrastruktur hijau.

"IARSI mencermati bahwa integrasi antara manajemen sampah di perkotaan dan penyediaan energi di wilayah terpencil adalah dua pilar yang akan memperkokoh struktur ekonomi kita. IARSI menyatakan kesiapan penuh untuk memberikan dukungan langsung kepada Pemerintah, baik dalam bentuk pemikiran strategis maupun pendampingan teknis, guna memperkuat ketahanan rantai pasok energi nasional yang kini menjadi prioritas utama negara," tegasnya.

Post: Iarsi.org