Bekasi - Ikatan Ahli Rantai Supali Indonesia (IARSI) memprediksi akan terjadi lonjakan harga sejumlah komoditas pasca Lebaran akibat terganggunya rantai pasok nasional.
Ketua Umum (IARSI) Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menyampaikan bahwa pola tahunan menunjukkan adanya disrupsi distribusi setelah periode libur panjang. “Aktivitas logistik yang belum sepenuhnya pulih, ditambah keterlambatan tenaga kerja kembali ke pusat produksi, menjadi faktor utama kenaikan harga dalam jangka pendek,” ujarnya.
Gangguan ini dipicu oleh beberapa hal, antara lain terhentinya operasional pabrik dan gudang selama libur Lebaran, penumpukan distribusi saat arus balik, serta menipisnya stok akibat lonjakan permintaan sebelum hari raya. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan barang di pasar tidak stabil.
Komoditas yang berpotensi mengalami kenaikan harga meliputi bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, serta produk hortikultura. Selain itu, sektor logistik dan e-commerce juga diperkirakan mengalami keterlambatan pengiriman yang berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.
“Idealnya, pemulihan rantai pasok membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga minggu setelah Lebaran. Selama periode ini, fluktuasi harga sangat mungkin terjadi,”
Beniadi Setiawan juga menyoroti bahwa pelaku usaha kecil dan menengah menjadi pihak yang paling rentan terdampak. Keterbatasan modal dan akses terhadap pemasok alternatif membuat mereka lebih sulit beradaptasi ketika distribusi tersendat dan harga bahan baku naik.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memperburuk tekanan terhadap pasokan. Perilaku konsumsi yang lebih bijak dinilai dapat membantu menjaga keseimbangan pasar selama masa transisi pasca Lebaran.
Beniadi Setiawan juga mengimbau pelaku usaha untuk memperkuat manajemen persediaan dan memperluas jaringan pemasok guna meminimalkan risiko gangguan serupa. Sementara itu, pemerintah didorong untuk memastikan kelancaran distribusi dan menjaga stabilitas harga melalui intervensi pasar jika diperlukan.
Dengan langkah antisipatif yang tepat, dampak lonjakan harga diharapkan dapat ditekan sehingga tidak memberatkan masyarakat pasca Lebaran.
Post: iarsi.org
