Bekasi, IARSI News — Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) secara resmi menyatakan dukungan penuh dan strategis terhadap langkah pemerintah dalam mempercepat pembentukan Holding BUMN Logistik. Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menegaskan bahwa penyatuan kekuatan berbagai entitas logistik milik negara di bawah satu payung besar adalah solusi fundamental untuk mengatasi inefisiensi kronis yang selama ini menghambat daya saing nasional. Menurutnya, keberadaan PT Pos Indonesia (Persero) sebagai jangkar (anchor) merupakan pilihan tepat mengingat jangkauan infrastruktur dan pengalaman historisnya yang luas. IARSI memandang bahwa integrasi ini bukan sekadar pergantian struktur organisasi, melainkan sebuah orkestrasi besar untuk menyatukan portofolio sumber daya logistik yang masif—mulai dari pergudangan, armada transportasi, hingga sistem manajemen distribusi—ke dalam satu ekosistem yang kohesif dan jauh lebih tangguh dibandingkan kondisi saat ini di mana perusahaan-perusahaan tersebut masih berdiri sendiri-sendiri secara fragmentaris.
Dukungan kuat dari kalangan akademisi dan praktisi rantai suplai ini muncul di tengah momentum krusial, di mana pemerintah menargetkan proses merger sektor logistik tersebut akan rampung sepenuhnya pada semester pertama tahun 2026. Proses ini bukan lagi sekadar wacana di atas kertas, melainkan langkah nyata yang dipimpin langsung oleh Badan Pengelola (BP) BUMN. Kepala BP BUMN sekaligus CEO Danantara Asset Management, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa konsolidasi ini merupakan upaya strategis untuk menciptakan multiplier effect bagi ekonomi Indonesia. Dony menjelaskan bahwa restrukturisasi di internal PT Pos Indonesia, termasuk perombakan jajaran direksi, telah tuntas dilaksanakan sebagai fondasi awal. Kini, pemerintah tengah fokus mengintegrasikan berbagai anak usaha logistik dari sektor lain, seperti KAI Logistik, Angkasa Pura Logistik, Pupuk Logistik, hingga Semen Logistik, untuk masuk ke dalam satu sistem kendali yang lebih efisien, transparan, dan kompetitif.
Beniadi menambahkan bahwa efisiensi adalah kata kunci dalam persaingan rantai suplai global saat ini. Selama ini, banyak anak usaha BUMN yang memiliki fungsi logistik namun beroperasi secara silo atau terisolasi satu sama lain, yang sering kali memicu tumpang tindih investasi dan pemborosan biaya operasional. Dengan terbentuknya Holding BUMN Logistik, aset-aset strategis seperti terminal kargo bandara milik Angkasa Pura atau jalur logistik kereta api milik KAI dapat dikolaborasikan secara optimal dengan kekuatan distribusi ritel PT Pos. "Kita tidak bisa lagi membiarkan sumber daya bangsa ini berjalan secara parsial. Dengan integrasi ini, biaya logistik nasional yang selama ini dikenal tinggi diharapkan dapat ditekan secara signifikan, sehingga produk-produk dalam negeri mampu bersaing lebih baik di pasar internasional. IARSI mendukung penuh percepatan ini demi kedaulatan rantai suplai nasional yang lebih mandiri dan modern," pungkas Beniadi.
Visi besar ini juga diamini oleh Dony Oskaria saat meninjau progres konsolidasi di Stasiun Manggarai beberapa waktu lalu. Ia menekankan bahwa banyaknya anak perusahaan BUMN yang bergerak di bidang logistik saat ini perlu dirampingkan agar lebih strong dan lincah dalam bermanuver di pasar yang dinamis. Melalui pengawasan Danantara Asset Management, holding ini diharapkan menjadi entitas raksasa yang tidak hanya unggul secara domestik, tetapi juga mampu menjadi pemain kunci di level regional. Percepatan di semester pertama 2026 ini dianggap sebagai tenggat waktu yang realistis namun menantang, mengingat kompleksitas penyatuan berbagai budaya kerja dan sistem operasional dari masing-masing anak usaha. Namun, dengan kepemimpinan PT Pos Indonesia yang kini telah diperkuat secara struktural, optimisme terhadap lahirnya ekosistem logistik plat merah yang "satu pintu" kini semakin menguat di kalangan pelaku industri.
Post: Iarsi.org
