Bekasi - Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, ST,MM,Ph.D., Menyampaikan ulasannya mengenai Realita Indonesia saat ini dari sisi rantai pasok nasional dan kualitas SDM rantai pasok.
Beniadi Setiawan menjelaskan Rantai pasok nasional Indonesia saat ini menghadapi tantangan kompleks di tengah dinamika ekonomi global, perubahan iklim, dan kebutuhan percepatan digitalisasi. Sebagai negara kepulauan, persoalan geografis menjadi hambatan alami yang membuat biaya logistik nasional tetap tinggi, bahkan termasuk yang tertinggi di Asia. Distribusi barang antarwilayah masih kerap terhambat oleh minimnya konektivitas antar moda transportasi serta ketimpangan infrastruktur antara Pulau Jawa dan luar Jawa.
Meskipun pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan tol, pelabuhan, dan bandara, tantangan berikutnya adalah integrasi sistem logistik. Banyak pelaku industri menilai bahwa infrastruktur digital, seperti sistem pelacakan barang, integrasi data antar lembaga, dan adopsi teknologi rantai pasok, belum berjalan optimal. Fragmentasi data antar instansi menyebabkan proses logistik sering tidak efisien dan rawan bottleneck.
Efektivitas rantai pasok nasional juga dipengaruhi oleh lemahnya ekosistem transportasi laut dan pelayaran domestik. Biaya angkut antar pulau tidak jarang lebih mahal dibandingkan ongkos ekspor ke negara tetangga. Hal ini berdampak pada harga barang di wilayah timur yang jauh lebih tinggi dan mempengaruhi daya saing ekonomi daerah. Keberadaan tol laut sudah membantu, tetapi distribusi balik yang tidak seimbang (imbalance) masih menjadi beban industri.
Di sisi SDM rantai pasok, Indonesia menghadapi gap kompetensi yang cukup signifikan. Banyak perusahaan kesulitan menemukan tenaga profesional yang memahami supply chain secara menyeluruh—mulai dari manajemen pergudangan, perencanaan kebutuhan material, analisis permintaan, manajemen risiko, hingga penggunaan teknologi seperti ERP, AI, dan sistem logistik berbasis data. Keterbatasan ini membuat proses rantai pasok nasional sering berjalan secara manual dan kurang responsif terhadap perubahan pasar.
Sebagai tambahan, dunia pendidikan dan industri belum sepenuhnya selaras dalam mencetak SDM rantai pasok yang siap kerja. Program studi logistik dan supply chain management memang berkembang pesat, tetapi kurikulum dan praktik lapangan masih perlu diperkuat agar lebih sesuai dengan kebutuhan industri masa kini. Banyak lulusan masih belum terbiasa dengan budaya efisiensi, pemanfaatan teknologi, dan pemahaman end-to-end supply chain.
Di tengah tantangan tersebut, ada perkembangan positif: meningkatnya investasi di sektor logistik, hadirnya startup teknologi rantai pasok, dan tumbuhnya kesadaran perusahaan terhadap pentingnya supply chain resilience. Pandemi telah menjadi momentum percepatan digitalisasi, di mana pelaku industri mulai mengadopsi sistem manajemen inventori otomatis, layanan logistik digital, serta optimasi rute berbasis data. Upaya ini menunjukkan bahwa transformasi menuju rantai pasok modern sedang berlangsung.
Secara keseluruhan, realita Indonesia saat ini menunjukkan bahwa rantai pasok nasional memiliki potensi besar namun perlu percepatan dalam integrasi sistem, pemerataan infrastruktur, dan peningkatan kualitas SDM. Kunci keberhasilan ke depan terletak pada kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, dan pelaku logistik dalam membangun ekosistem yang lebih efisien, transparan, dan adaptif. Dengan dukungan SDM yang kompeten dan teknologi yang tepat, Indonesia dapat memperkuat daya saingnya di pasar regional maupun global.
Post: iarsi.org
