Bekasi — Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai percepatan hilirisasi industri dalam beberapa tahun terakhir membawa perubahan besar pada struktur rantai pasok nasional.
"Kebijakan hilirisasi tidak hanya menggeser pusat produksi dari Jawa ke luar pulau, tetapi juga melahirkan kebutuhan logistik baru yang harus segera diantisipasi. “Hilirisasi telah mengubah peta suplai Indonesia. Dampaknya masif, dan kita harus siap,” ujar Ketua Umum IARSI Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, ST,MM,Ph.D., dalam keterangan resminya.
IARSI mencatat kawasan industri berbasis mineral di Sulawesi dan Kalimantan kini menjadi simpul baru distribusi nasional. Lonjakan aktivitas di Morosi, Weda Bay, dan beberapa pelabuhan penghubung menunjukkan bahwa rantai pasok kini semakin kompleks. Perubahan arus logistik tersebut membutuhkan penyesuaian cepat dalam hal infrastruktur, kapasitas pelabuhan, dan integrasi moda transportasi. “Tanpa adaptasi strategis, bottleneck akan muncul dan bisa menurunkan efisiensi industri hilir,” tegas Beniadi Setiawan.
Di sektor transportasi, Beniadi Setiawan mengungkapkan bahwa hilirisasi menciptakan lonjakan permintaan angkutan bahan baku, energi, dan peralatan industri. Kebutuhan ini mendorong investor dan perusahaan logistik memodernisasi armada, mulai dari kapal pengangkut mineral hingga truk heavy duty. Namun, keterbatasan jalan akses, ketergantungan pada rute tertentu, serta tingginya biaya logistik masih menjadi hambatan, maka itu perlunya strategi jangka panjang untuk membangun koridor logistik yang terintegrasi dan tahan disrupsi.
Selain dampak, IARSI juga melihat hilirisasi membuka peluang besar bagi pemasok lokal. Permintaan terhadap bahan kimia, suku cadang, komponen mesin, hingga teknologi industri meningkat seiring berkembangnya smelter dan pabrik turunan. Jika dimanfaatkan, peluang ini dapat mendorong tumbuhnya industri pendukung yang memperkuat struktur rantai pasok nasional. “Ini momen penting bagi industri pemasok dalam negeri untuk naik kelas,” ungkapnya.
Ketua Umum IARSI juga mengingatkan bahwa sebagian komponen kritis masih bergantung pada impor sehingga membuat rantai pasok rentan terhadap fluktuasi global. Risiko biaya logistik internasional, keterlambatan pengiriman, hingga geopolitik dapat mengganggu kelancaran produksi hilir. Untuk itu, IARSI mendorong pemerintah mempercepat program substitusi impor, meningkatkan kapasitas riset, serta memperkuat ekosistem manufaktur lokal.
Dari sisi ekspor, hilirisasi meningkatkan kebutuhan logistik untuk produk bernilai tambah seperti NPI, feronikel, stainless steel, hingga material baterai. IARSI juga menyoroti perlunya pembenahan kapasitas pelabuhan ekspor agar tidak terjadi antrean kapal dan kerugian waktu. Integrasi dengan sistem logistik digital nasional juga dinilai penting untuk memastikan transparansi dan ketertelusuran dalam rantai suplai.
IARSI menegaskan bahwa hilirisasi merupakan momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai nilai global. Namun transformasi ini hanya akan optimal jika pemerintah, pelaku industri, dan penyedia jasa logistik mempercepat modernisasi rantai pasok nasional. “Peluang besarnya nyata, tapi tanpa kesiapan logistik dan SDM, manfaatnya tidak akan maksimal. Indonesia harus bergerak cepat,” tutup Beniadi Setiawan (Ketua Umum IARSI, Associate Professor (Hon), Profesional Praktisi & Tenaga Ahli Utama bidang Manajemen Rantai Suplai)
Post: Iarsi.org
