Jakarta - Assoc. Prof (Hon) R. Beniadi Setiawan, ST, MM, PhD, Ketua Umum IARSI, menggelar pertemuan intens berdurasi empat jam dengan Prof. Dr. Muhammad Budi Djatmiko, S.E., M.Si., M.E. yang berlangsung penuh substansi dan arah kebijakan. Dalam pertemuan tersebut, Assoc. Prof Hon R. Beniadi Setiawan menyerahkan secara simbolis tiga Published Jurnal IARSI yang mengulas urgensi pembentukan Badan Rantai Pasok Nasional, konsep Supply‑Demand Matching MBG, serta strategi peningkatan konektivitas logistik nasional, disertai penyerahan tiga buku karya beliau yang berfokus pada Manajemen Risiko Rantai Pasok, Sustainable Supply Chain, dan Buku Pedoman Profesi Logistik. Pertemuan yang berlangsung intens ini menegaskan komitmen IARSI untuk menghadirkan kajian ilmiah dan rekomendasi kebijakan yang aplikatif bagi penguatan tata kelola rantai pasok nasional.
Diskusi yang dipimpin oleh kedua tokoh tersebut menyoroti kebutuhan mendesak akan lembaga koordinatif yang mampu menyinergikan kebijakan produksi, distribusi, dan cadangan strategis antar kementerian, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan daerah. Assoc. Prof Hon R. Beniadi Setiawan memaparkan hasil kajian IARSI yang menunjukkan bahwa pembentukan Badan Rantai Pasok Nasional akan memperkecil ketidaksesuaian antara kapasitas produksi dan kebutuhan pasar, sementara model Supply‑Demand Matching MBG dipresentasikan sebagai solusi teknis untuk mengurangi mismatch dan mengefisienkan aliran barang. Selain itu, peningkatan konektivitas logistik melalui integrasi moda, percepatan digitalisasi rantai pasok, dan perbaikan infrastruktur menjadi bagian dari rekomendasi konkret yang disampaikan untuk menekan biaya distribusi dan mempercepat arus barang antarwilayah.
Prof. Dr. Muhammad Budi Djatmiko, yang dikenal luas sebagai tokoh logistik nasional, Komisaris Utama PT Pos Indonesia (Persero), dan Ketua Umum APTISI, menyambut baik inisiatif serta bahan kajian yang diserahkan. Dalam pertemuan itu beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, asosiasi profesi, dan pelaku industri untuk menerjemahkan gagasan‑gagasan strategis menjadi kebijakan dan program implementatif. Kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan negara kepada Prof. Djatmiko menambah bobot diskusi, sehingga gagasan‑gagasan IARSI mendapat perhatian serius sebagai masukan yang potensial untuk perumusan kebijakan nasional di bidang logistik dan rantai pasok.
Kedua pihak menegaskan dukungan bersama terhadap target penurunan biaya logistik nasional menjadi 12,5 persen sesuai arah Perpres RPJMN 2029, dengan menekankan bahwa pencapaian target tersebut tidak hanya soal efisiensi ekonomi tetapi juga soal keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan. Assoc. Prof Hon R. Beniadi Setiawan menegaskan kesiapan IARSI untuk berkontribusi melalui penyediaan kajian ilmiah, pilot project Supply‑Demand Matching, modul pelatihan, serta dukungan teknis bagi program peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor logistik. Langkah‑langkah ini diharapkan mampu menurunkan biaya logistik, memperkuat daya saing produk nasional, dan meningkatkan akses pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di seluruh pelosok negeri.
Red
