IARSI News: Bekasi – Dunia usaha dan Kerapuhan sistem logistik modern kian terelaborasi lewat peristiwa-peristiwa terbaru; di mana satu gangguan cuaca di sebuah wilayah hulu mampu memicu efek domino yang mengakibatkan penundaan berminggu-minggu di hilir, lonjakan tarif pengiriman, hingga kelangkaan persediaan yang mencekik margin keuntungan. Analis memprediksi, jika risiko iklim ini tidak segera dimitigasi secara sistemik, kerugian global kumulatif pada pertengahan abad ini dapat menembus angka fantastis 25 triliun dollar AS (sekitar Rp 420.820 triliun), yang berpotensi melumpuhkan sistem energi, mengganggu ketersediaan bahan baku, dan memicu inflasi struktural yang berkelanjutan.
Di Indonesia, urgensi ini menyentuh aspek kemanusiaan dan produktivitas nasional secara langsung. Dengan hampir setengah populasi dunia kini mengalami tambahan 30 hari panas ekstrem dalam setahun, keselamatan pekerja di lapangan, stabilitas hasil pertanian, dan produktivitas industri berada dalam risiko tinggi. Ketika manusia tidak lagi mampu bekerja dengan aman dan sektor agraris gagal panen akibat cuaca yang tak terduga, kelangsungan bisnis dan layanan masyarakat di tanah air akan terdisrupsi secara fundamental. Dalam konteks nasional, ketahanan rantai pasokan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) menjadi pilar utama agar layanan publik tetap berjalan normal dan roda ekonomi tidak terhenti di tengah guncangan hidrometeorologi.
Menanggapi situasi kritis ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini agar masyarakat dan sektor industri meningkatkan kewaspadaan penuh pada periode 15–21 Februari 2026. BMKG mendeteksi adanya penguatan Monsun Asia yang didukung aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) serta fenomena gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby. Kombinasi dinamika atmosfer ini berpotensi memicu cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di berbagai wilayah strategis, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Utara, Kalimantan, hingga Papua.
Kepala BMKG mengimbau pemerintah daerah dan para pelaku industri untuk memperkuat langkah mitigasi bencana hidrometeorologi guna melindungi infrastruktur logistik dan memastikan keamanan distribusi nasional. Masyarakat diminta untuk tetap tenang namun tetap waspada, serta secara proaktif memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG sebelum merencanakan mobilitas atau aktivitas produksi. Di tengah ketidakpastian iklim 2026, sinergi antara data cuaca yang akurat dan kesiapan operasional industri menjadi satu-satunya kunci untuk menjaga stabilitas perdagangan dan layanan publik nasional dari ancaman kelumpuhan.
Red
