Jakarta - Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menyatakan bahwa krisis energi mengancam Indonesia setelah dua kapal tanker Pertamina terjebak di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menghubungkan Telak Persia dengan Laut Oman.

Indonesia saat ini menghadapi potensi krisis energi BBM karena cadangan BBM hanya cukup untuk 20 hari ke depan. Ini disebabkan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama antara AS, Israel, dan Iran, yang mempengaruhi pasokan minyak global.

Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari, sehingga rentan terhadap gangguan global. Kenaikan harga minyak berpotensi menambah 8 APBN melalui subsidi dan kompensasi energi.

"Insiden ini menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia pada impor BBM masih sangat tinggi dan membuat negara kita rentan terhadap gangguan pasokan," kata Ketua umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., dalam pernyataan resminya.

IARSI mengimbau pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan produksi energi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor. "Kita harus belajar dari pengalaman ini dan meningkatkan kemampuan kita dalam mengelola sumber daya energi," tambah Beniadi Setiawan.

Ref