JAKARTA – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gangguan logistik ritel nasional menjelang perayaan Idul Fitri 1447 H. Kombinasi antara lonjakan konsumsi domestik dan ketidakpastian harga energi global diprediksi akan menciptakan tekanan hebat pada arus distribusi barang pokok dan konsumsi.
Ketua Umum IARSI menekankan bahwa jendela waktu untuk melakukan mitigasi semakin sempit, mengingat pola mudik tahun ini diperkirakan akan dimulai lebih awal.
IARSI menyoroti tiga faktor krusial yang dapat menghambat distribusi ritel jika tidak segera diantisipasi oleh para pelaku industri:
Efek Domino Harga Energi Dunia: Dengan harga minyak mentah yang bertahan di level $115 per barel, IARSI memproyeksikan kenaikan biaya angkutan barang (freight cost) domestik sebesar 10-15%. Hal ini berisiko memicu inflasi harga pangan di tingkat daerah akibat pembengkakan biaya operasional logistik.
Keterbatasan Kapasitas Gudang Satelit: Lonjakan volume barang ritel yang masuk ke pusat distribusi (Distribution Center) dalam waktu singkat dapat menyebabkan bottleneck. IARSI menyarankan perusahaan ritel untuk mengoptimalkan gudang-gudang kecil di pinggiran kota guna mempercepat proses last-mile delivery.
Sinkronisasi Pembatasan Angkutan Barang: Penerapan pembatasan operasional truk non-logistik di jalur utama mudik sering kali menjadi kendala bagi pengiriman barang sekunder (seperti pakaian dan elektronik). IARSI mendorong adanya "jalur hijau" atau prioritas bagi angkutan logistik yang membawa kebutuhan pokok masyarakat.
Untuk menjaga stabilitas pasokan, IARSI memberikan tiga rekomendasi utama bagi para pemangku kepentingan:
Implementasi Front-Loading: Peritel dihimbau menyelesaikan pengiriman stok utama ke titik-titik distribusi regional maksimal 14 hari sebelum hari raya.
Kolaborasi Logistik Berbagi (Shared Logistics): Mendorong perusahaan ritel menengah untuk berbagi ruang kargo atau gudang guna menekan inefisiensi biaya di tengah tingginya tarif angkutan.
Pemanfaatan Teknologi Visibilitas: Menggunakan sistem pelacakan real-time untuk memantau posisi armada guna menghindari area kemacetan parah di jalur mudik.
"Tantangan logistik tahun ini bukan hanya soal volume, tapi soal ketepatan waktu di tengah kenaikan biaya input yang ekstrem. Tanpa perencanaan matang, ritel akan menghadapi risiko stok kosong tepat saat permintaan mencapai puncak," tegas Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., hari ini.
post: iarsi.org