Ilustrasi Foto: Industri Tekstil dan Industri Mamin (Makan Minum)

Bekasi - Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) mengamati perkembangan Konflik Iran-AS dan Israel yang memicu kekhawatiran di industri tekstil dan makanan-minuman (mamin) Indonesia. Rantai pasok tekstil berpotensi terganggu karena ketergantungan impor Monoetilen Glikol (MEG) dari Timur Tengah mencapai 85%. MEG adalah bahan baku utama pembuatan serat poliester. kata Ketua umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D.,

"Kalau bahan baku utama lainnya seperti Purified Terephthalic Acid (PTA), 95% disuplai dari dalam negeri," 

Konflik Iran-AS dapat mengganggu rantai pasok bahan baku, seperti Monoetilen Glikol (MEG) dan Purified Terephthalic Acid (PTA), yang digunakan dalam produksi tekstil.

Konflik Iran-AS juga menyebabkan terjadinya kenaikan biaya logistik dan harga minyak global yang dapat meningkatkan biaya produksi tekstil hingga 15-20%. Ini dapat menekan margin industri, terutama pabrik skala menengah dan kecil.

Industri tekstil Indonesia menyerap lebih dari 3 juta tenaga kerja dan nilai ekspor mencapai USD 12-13 miliar per tahun. Konflik ini juga dapat mempengaruhi daya beli domestik dan inflasi. ungkap Beniadi Setiawan lebih lanjut.

Perkembangan Industri tekstil dan makanan-minuman (mamin) di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor:

- Biaya Logistik: Kenaikan biaya logistik dapat meningkatkan biaya produksi dan mengurangi daya saing industri.

- Harga Bahan Baku: Kenaikan harga bahan baku, seperti minyak dan gas, dapat meningkatkan biaya produksi.

- Persaingan Global: Persaingan global yang ketat dapat membuat industri tekstil dan mamin di Indonesia kesulitan bersaing dengan produk impor.

- Perubahan Konsumsi: Perubahan pola konsumsi masyarakat dapat mempengaruhi permintaan produk tekstil dan mamin.

Menghadapi ancaman rantai pasok tekstil akibat konflik Iran-AS, IARSI menyarankan beberapa solusi:

1. Diversifikasi Sumber Bahan Baku: Mengurangi ketergantungan pada impor MEG dari Timur Tengah dengan mencari sumber alternatif di negara lain.

2. Peningkatan Produksi Dalam Negeri: Meningkatkan produksi MEG dan PTA dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor.

3. Pengembangan Teknologi: Mengembangkan teknologi untuk menggunakan bahan baku alternatif dan meningkatkan efisiensi produksi.

4. Kerja Sama Internasional: Meningkatkan kerja sama dengan negara lain untuk memastikan kestabilan rantai pasok tekstil.

5. Kebijakan Pemerintah: Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan yang mendukung industri tekstil, seperti insentif pajak dan subsidi untuk meningkatkan daya saing industri.

6. Pengembangan Infrastruktur: Meningkatkan infrastruktur logistik dan transportasi untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi rantai pasok.

IARSI berharap dengan solusi tersebut, industri tekstil dan mamin Indonesia dapat mengurangi risiko dan meningkatkan daya saing di pasar global.

Red