Bekasi - Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) memperingatkan tentang bahaya serangan siber yang menyasar rantai pasok. Menurut laporan Group-IB, serangan siber pada rantai pasok telah berevolusi menjadi ekosistem terintegrasi yang mengeksploitasi kepercayaan, akses, dan data yang telah dikompromikan.

Serangan siber ini dapat terjadi melalui titik lemah di rantai pasok, seperti penggunaan AI yang tidak terkendali dan kurangnya keamanan data. IARSI menekankan pentingnya meningkatkan keamanan siber dan kesadaran akan risiko serangan siber bagi perusahaan dan industri.

Rantai pasok ransomware yang semakin terindustrialisasi menjadi salah satu contoh, dengan Initial Access Broker, data broker, dan operator ransomware beroperasi dalam ekosistem yang terstruktur. Mereka membidik akses di tingkat hulu agar serangan dapat menjangkau lebih banyak target sekaligus dan menimbulkan kerugian bisnis yang lebih besar.

Beberapa contoh serangan siber yang menyasar rantai pasok termasuk:

- Ransomware: Serangan yang mengenkripsi data dan meminta tebusan untuk pembebasan data.

- Phishing: Serangan yang menggunakan teknik sosial engineering untuk mencuri kredensial login.

- Malware: Serangan yang menggunakan perangkat lunak berbahaya untuk mencuri data atau mengganggu operasional.

Untuk mencegah serangan siber, perusahaan harus meningkatkan keamanan siber dan kesadaran akan risiko serangan siber. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan keamanan data, melakukan audit keamanan secara teratur, dan meningkatkan kesadaran karyawan tentang keamanan siber. 

"Serangan siber dapat memiliki dampak besar pada rantai pasok dan industri, oleh karena itu penting bagi perusahaan untuk meningkatkan untuk keamanan siber dan kesadaran akan risiko serangan siber," ujar IARSI.

Red