Bekasi - Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) mengusulkan strategi antisipasi krisis rantai pasok energi dan ekonomi dampak penutupan selat Hormuz. Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menekankan pentingnya kesiapsiagaan nasional, kolaborasi lintas sektor, dan transformasi energi berkelanjutan untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Selat Hormuz adalah jalur vital bagi perdagangan energi global, dengan sekitar 20-30% pasokan minyak dunia melewati selat ini setiap hari.

Penutupan Selat Hormuz dapat berdampak signifikan terhadap Indonesia, terutama dalam hal energi dan ekonomi. Berikut beberapa dampak yang mungkin terjadi:

1. Kenaikan Harga Energi: Indonesia mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak dan LPG, sehingga penutupan Selat Hormuz akan meningkatkan harga energi domestik.

2. Gangguan Logistik: Penutupan akan meningkatkan biaya logistik dan pengiriman, memicu kenaikan harga barang dan jasa.

3. Inflasi: Kenaikan harga energi dan logistik akan memicu inflasi, mengurangi daya beli masyarakat.

4. Pengurangan Cadangan Devisa: Penutupan Selat Hormuz dapat mengurangi cadangan devisa Indonesia, karena harus membayar lebih mahal untuk impor minyak dan LPG.

5. Dampak pada Industri: Penutupan Selat Hormuz dapat mengganggu produksi industri yang bergantung pada impor bahan baku, seperti industri petrokimia dan transportasi

IARSI menyebutkan pemerintah dapat menerapkan Strategi Antisipasi Krisis Rantai Pasok Energi:

- Diversifikasi Sumber Energi: Mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah dari Timur Tengah dengan mengembangkan sumber energi alternatif, seperti energi terbarukan dan gas alam.

- Penguatan Cadangan Strategis: Meningkatkan kapasitas penyimpanan cadangan minyak nasional untuk mengantisipasi gangguan pasokan jangka pendek.

- Efisiensi Energi: Mendorong efisiensi energi di semua sektor, mulai dari industri hingga rumah tangga.

- Diplomasi Aktif: Melakukan diplomasi aktif dengan negara-negara produsen minyak dan organisasi internasional untuk menjaga stabilitas pasar minyak global.

- Pengembangan Energi Domestik: Meningkatkan investasi dalam eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di dalam negeri.

IARSI juga menekankan pentingnya koordinasi antar lembaga pemerintah terkait energi, termasuk Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia, untuk memastikan kebijakan energi yang diambil selaras dengan kebijakan ekonomi makro dan fiskal negara.

Dengan mengambil langkah-langkah antisipasi yang komprehensif dan terkoordinasi, pemerintah Indonesia dapat meminimalkan dampak negatif dari konflik Timur Tengah terhadap pasokan energi nasional dan perekonomian, ujar Beinadi Setiawan,

Red