Gambar ilustrasi
Bekasi - Kondisi ekonomi global pada awal 2026 masih dibayangi ketidakpastian tinggi akibat konflik geopolitik, perang dagang, serta gangguan rantai pasok yang meluas. Tekanan ini tidak hanya berdampak pada negara maju, tetapi juga mulai dirasakan secara nyata di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang terintegrasi dalam sistem perdagangan global.
Salah satu isu paling aktual adalah terganggunya pasokan bahan baku industri, seperti plastik, yang sangat bergantung pada minyak bumi dari kawasan Timur Tengah. Gangguan ini telah memicu kenaikan harga bahan baku dan berdampak langsung pada sektor industri pangan dan manufaktur. Bahkan, kasus kelangkaan kemasan plastik pada BUMN pangan menunjukkan bagaimana krisis global dapat merembet hingga ke distribusi kebutuhan dasar masyarakat.
Di sisi lain, tekanan rantai pasok global juga berkontribusi terhadap kenaikan biaya produksi di berbagai sektor. Pelaku usaha, termasuk UMKM, mulai merasakan margin usaha yang tergerus akibat lonjakan harga bahan baku dan ketidakpastian pasokan. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen, sehingga berisiko menekan daya beli masyarakat.
Meski demikian, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%, ditopang oleh konsumsi domestik dan investasi. Namun, Bank Indonesia mengingatkan bahwa risiko eksternal seperti fragmentasi ekonomi global dan volatilitas arus modal tetap menjadi ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Dalam konteks nasional, pemerintah juga tengah mendorong transformasi ekonomi melalui penguatan hilirisasi industri, efisiensi anggaran, serta negosiasi perdagangan internasional. Upaya seperti penyelesaian perjanjian dagang dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat menjadi bagian dari strategi memperluas pasar ekspor sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Menurut Ikatan Ahli Rantai Pasok Indonesia, kondisi saat ini menunjukkan bahwa rantai pasok telah menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi. Ketergantungan terhadap bahan baku impor dan belum meratanya infrastruktur logistik membuat Indonesia rentan terhadap guncangan global. Oleh karena itu, digitalisasi, diversifikasi sumber pasokan, serta penguatan sistem logistik nasional menjadi langkah mendesak.
Ke depan, para ahli menilai bahwa daya saing ekonomi tidak lagi hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh kemampuan mengelola rantai pasok secara efisien dan adaptif. Dalam situasi global yang semakin kompleks, negara yang mampu membangun sistem rantai pasok yang tangguh akan memiliki keunggulan strategis dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional.
Post: iarsi.org
