Gambar Ilustrasi


Bekasi - Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menegaskan bahwa digitalisasi dalam rantai pasok nasional kini telah berubah dari sekadar opsi menjadi kebutuhan mendesak. Di tengah tekanan global dan meningkatnya kompleksitas distribusi, IARSI menilai perusahaan di Indonesia harus segera beradaptasi agar tidak tertinggal dalam persaingan.

Menurut Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, ST,MM,Ph.D, tren digitalisasi mulai terlihat di berbagai sektor industri. Sejumlah perusahaan telah mengadopsi sistem pelacakan (tracking) real-time untuk memantau pergerakan barang secara akurat. Selain itu, penggunaan data analytics logistik juga semakin berkembang guna meningkatkan efisiensi operasional dan pengambilan keputusan berbasis data.

Namun demikian, implementasi teknologi tersebut dinilai masih belum merata. Banyak pelaku usaha, terutama di sektor menengah dan kecil, masih menghadapi kendala dalam mengadopsi sistem digital. Selain itu, integrasi antar sistem dalam rantai pasok juga masih lemah, sehingga menghambat terciptanya ekosistem logistik yang terhubung secara menyeluruh.

Kondisi ini menjadi isu krusial dalam penguatan daya saing nasional. Tanpa digitalisasi, perusahaan berisiko kalah bersaing, baik di pasar domestik maupun global. Sementara itu, bagi perusahaan yang ingin bertransformasi, tantangan lain muncul berupa kebutuhan investasi yang besar serta kesiapan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan teknologi tersebut, ujar Beniadi Setiawan.

Sejumlah sumber lain turut menguatkan pandangan tersebut. Kementerian Perhubungan dan Kementerian Keuangan sebelumnya menyebutkan bahwa transformasi digital dalam sektor logistik dapat menekan biaya distribusi dan meningkatkan transparansi. Sementara itu, pelaku industri yang diwawancarai dalam berbagai forum logistik nasional juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat digitalisasi.

Di sisi lain, dorongan menuju logistik yang lebih ramah lingkungan turut memperkuat urgensi digitalisasi. Dengan sistem yang lebih canggih, perusahaan dapat mengoptimalkan rute distribusi, mengurangi konsumsi bahan bakar, serta menekan emisi karbon. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong transisi menuju ekonomi hijau.

Beniadi Setiawan menegaskan, bahwa masa depan rantai pasok Indonesia sangat bergantung pada kecepatan adaptasi terhadap teknologi. Digitalisasi bukan lagi sekadar inovasi tambahan, melainkan fondasi utama dalam membangun sistem logistik yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan di tengah dinamika global yang terus berubah.


Posr: iarsi.org