BEKASI — Di tengah tekanan geopolitik yang mengganggu jalur pelayaran utama dunia, rute kargo Mesir–Italia kini mencuat sebagai solusi strategis baru bagi rantai pasok global. Koridor ini dinilai mampu menjaga stabilitas distribusi barang lintas kawasan, khususnya antara Eropa dan Timur Tengah.
Mengacu pada laporan Radio Republik Indonesia, rute tersebut menghubungkan Pelabuhan Damietta di Mesir dengan Pelabuhan Trieste di Italia melalui skema roll-on/roll-off (Ro-Ro). Sistem ini memungkinkan truk langsung berpindah dari kapal ke darat tanpa proses bongkar muat yang kompleks.
Setelah tiba di Mesir, kargo melintasi jalur darat menuju Pelabuhan Safaga di Laut Merah sebelum diteruskan ke negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, dan Qatar. Skema multimoda ini mempercepat waktu pengiriman sekaligus menekan biaya logistik.
Lonjakan minat terhadap rute ini tidak lepas dari ketidakstabilan di jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang selama ini menangani sekitar seperlima aliran energi global. Gangguan di kawasan tersebut berdampak langsung terhadap perdagangan dunia dan memaksa pelaku industri mencari jalur alternatif yang lebih aman.
Sejumlah laporan internasional mencatat bahwa koridor yang mulai beroperasi sejak akhir 2024 ini kini semakin diminati karena menawarkan efisiensi waktu, penyederhanaan proses bea cukai, serta fleksibilitas distribusi lintas moda transportasi.
Pakar logistik internasional, Dr. Marco Bellini, menilai koridor ini bukan sekadar solusi sementara.
“Integrasi laut dan darat dalam rute ini mampu memangkas waktu transit dan mengurangi ketergantungan pada chokepoint global,” ujarnya.
Sementara itu, analis rantai pasok Timur Tengah, Leila Hassan, menegaskan posisi strategis Mesir semakin menguat.
“Mesir kini menjadi simpul penting yang menghubungkan Eropa, Afrika, dan kawasan Teluk dalam satu koridor logistik,” katanya.
Respons IARSI: Momentum Reposisi Strategis Indonesia
Menanggapi perkembangan ini, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai kemunculan rute Mesir–Italia sebagai sinyal kuat pergeseran peta logistik global yang harus direspons serius oleh Indonesia.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D. dalam pernyataannya menegaskan bahwa fenomena ini menunjukkan era baru rantai pasok yang lebih adaptif terhadap risiko geopolitik.
“Rute Mesir–Italia bukan sekadar alternatif, tetapi indikator bahwa dunia sedang bergerak menuju sistem logistik multipath. Ketergantungan pada satu jalur utama seperti Selat Hormuz terbukti sangat berisiko,” ujarnya.
IARSI juga menyoroti bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dengan posisi strategis seharusnya mengambil peran lebih aktif dalam jaringan logistik global.
“Indonesia perlu mempercepat penguatan hub logistik nasional, termasuk integrasi pelabuhan, kawasan industri, dan jalur multimoda agar tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain dalam rantai pasok global,” tambahnya.
Lebih lanjut, Beniadi Setiawan mengingatkan bahwa disrupsi jalur pelayaran global berpotensi memicu kenaikan biaya logistik dan tekanan inflasi jika tidak diantisipasi dengan strategi diversifikasi rute dan sumber pasokan.
“Diversifikasi jalur dan sumber logistik harus menjadi kebijakan permanen, bukan respons sementara terhadap krisis,” tegasnya.
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung, rute Mesir–Italia kini tidak hanya menjadi alternatif, tetapi mulai diposisikan sebagai tulang punggung baru distribusi global—sekaligus menjadi peringatan bagi negara-negara seperti Indonesia untuk mempercepat transformasi sistem logistik nasional agar lebih tangguh dan kompetitif.
Post: iarsi.org
