BEKASI - Kebijakan pola kerja hybrid berupa empat hari work from office (WFO) dan satu hari work from home (WFH) mulai memunculkan beragam implikasi terhadap perekonomian nasional. Sejumlah pengamat menilai kebijakan ini berpotensi menggeser aktivitas ekonomi harian, terutama di kawasan perkotaan yang selama ini bergantung pada mobilitas pekerja kantoran.
Penurunan mobilitas pada satu hari kerja diperkirakan berdampak langsung terhadap sektor transportasi, usaha makanan dan minuman, serta pelaku usaha mikro di sekitar perkantoran. Konsumsi harian seperti pembelian bahan bakar, layanan ojek daring, hingga transaksi di kantin dan minimarket cenderung menurun. Namun demikian, pergeseran konsumsi ke sektor rumah tangga dan digital turut mengimbangi, terutama melalui peningkatan layanan pesan antar dan perdagangan elektronik.
Dari sisi produktivitas, kebijakan ini dinilai memiliki efek yang beragam. Model kerja hybrid dapat meningkatkan efisiensi bagi pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, tetapi juga berisiko menurunkan efektivitas koordinasi apabila tidak didukung sistem manajemen yang memadai. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi sangat ditentukan oleh kesiapan organisasi dalam mengelola kinerja berbasis output.
Sementara itu, dampak terhadap rantai pasok nasional dinilai relatif terbatas pada level inti. Sektor manufaktur, logistik, dan distribusi barang tetap berjalan normal karena tidak bergantung pada skema kerja jarak jauh. Meski demikian, perubahan pola permintaan dari perkantoran ke rumah tangga memicu penyesuaian dalam jalur distribusi, terutama pada peningkatan kebutuhan layanan logistik last-mile.
Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, ST,MM,Ph.D, menilai bahwa kebijakan ini tidak mengganggu stabilitas rantai pasok secara langsung, namun menciptakan dinamika baru dalam pola distribusi dan permintaan. IARSI menekankan bahwa pelaku industri perlu mengantisipasi pergeseran dari model distribusi berbasis volume besar ke distribusi yang lebih tersebar dan berbasis konsumen akhir, yang menuntut efisiensi dan fleksibilitas lebih tinggi.
Beniadi Setiawan, justru melihat adanya peluang dari sisi percepatan digitalisasi rantai pasok. Penggunaan teknologi seperti platform logistik digital, sistem manajemen inventori real-time, dan integrasi data permintaan dinilai akan semakin krusial. Transformasi ini diyakini dapat meningkatkan ketahanan rantai pasok nasional dalam menghadapi perubahan pola konsumsi yang semakin dinamis.
Dalam jangka panjang, kebijakan WFO dan WFH yang seimbang diperkirakan akan membentuk struktur ekonomi yang lebih adaptif dan terdigitalisasi. Meski tidak menimbulkan gangguan besar terhadap stabilitas ekonomi nasional, pemerintah dan pelaku usaha diingatkan untuk tetap mengantisipasi dampaknya terhadap sektor informal perkotaan, sekaligus memastikan bahwa efisiensi kerja yang dihasilkan tidak mengorbankan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Post: iarsi.org
