Ilustrasi by: iarsi.org (AI)
Bekasi – Lonjakan harga bahan baku plastik mulai memberikan tekanan serius pada sejumlah komoditas kebutuhan pokok di Indonesia. Sejumlah bahan dapur utama seperti minyak goreng, beras, hingga produk olahan rumah tangga lainnya berpotensi mengalami kenaikan harga dalam waktu dekat.
Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya biaya kemasan plastik yang digunakan dalam rantai distribusi pangan. Kenaikan tersebut tidak hanya berdampak pada industri besar, tetapi juga pada pelaku usaha mikro dan pasar tradisional.
Sejumlah komoditas yang disebut paling terdampak antara lain minyak goreng, beras, gula, tepung, garam, kecap, saus, hingga produk makanan olahan yang menggunakan kemasan plastik dalam distribusinya.
Salah satu dampak paling nyata terlihat pada harga minyak goreng. Pemerintah sebelumnya mengakui bahwa kenaikan harga minyak goreng kemasan dipicu oleh lonjakan biaya plastik sebagai bahan kemasan, bukan karena kelangkaan bahan baku utama sawit.
Selain itu, harga beras di sejumlah daerah juga mulai menunjukkan tren kenaikan, seiring meningkatnya biaya distribusi dan kemasan di tingkat distribusi pangan nasional. Tekanan ini membuat harga kebutuhan pokok menjadi semakin sensitif terhadap perubahan biaya produksi.
Berdasarkan laporan perkembangan harga pangan, sedikitnya terdapat 12 bahan dapur yang berpotensi terdampak kenaikan biaya plastik, yaitu:
Minyak goreng
Beras
Gula pasir
Tepung terigu
Garam
Kecap
Saus
Mi instan dan produk olahan
Bumbu dapur kemasan
Makanan ringan kemasan
Produk frozen food
Minuman kemasan
Kenaikan biaya plastik disebut berpotensi merembet ke seluruh rantai pasok pangan karena hampir semua produk tersebut menggunakan kemasan berbasis plastik dalam distribusinya.
Kenaikan harga plastik global dipicu oleh gangguan rantai pasok dan fluktuasi harga bahan baku petrokimia. Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat dan akhirnya diteruskan ke harga konsumen.
Para pelaku industri menilai bahwa tanpa intervensi kebijakan yang tepat, tekanan biaya ini bisa terus berlanjut dan berdampak pada inflasi pangan domestik.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memastikan stok bahan pokok tetap aman, meskipun terdapat penyesuaian harga di pasar akibat faktor biaya kemasan.
Namun demikian, pemerintah juga diminta memperkuat stabilisasi rantai pasok agar kenaikan biaya bahan pendukung seperti plastik tidak terus menekan harga pangan masyarakat.
Kenaikan harga plastik kini menjadi faktor eksternal baru yang berpengaruh langsung terhadap harga bahan pangan. Jika tidak segera diantisipasi, dampaknya dapat meluas ke berbagai komoditas dapur masyarakat, termasuk 12 bahan pokok utama yang saat ini mulai menunjukkan tekanan harga.
Respons IARSI: Tekanan Biaya Kemasan Perlihatkan Kerentanan Rantai Pasok Pangan
Menanggapi potensi kenaikan harga sejumlah bahan dapur tersebut, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai bahwa lonjakan harga plastik menunjukkan masih rentannya struktur rantai pasok pangan nasional terhadap faktor eksternal global. Menurut IARSI, komponen non-pangan seperti kemasan, logistik, dan energi kini semakin dominan dalam menentukan harga akhir barang kebutuhan pokok di pasar.
IARSI menjelaskan bahwa selama ini fokus pengendalian harga pangan lebih banyak diarahkan pada sisi produksi, sementara biaya turunan seperti kemasan plastik dan distribusi belum dikelola secara terintegrasi. Akibatnya, ketika terjadi kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik, dampaknya langsung merembet ke berbagai komoditas strategis seperti minyak goreng, beras, dan produk pangan kemasan lainnya.
Selain itu, IARSI mendorong pemerintah untuk memperkuat efisiensi rantai pasok nasional melalui integrasi sistem logistik dan percepatan penggunaan kemasan alternatif yang lebih ramah biaya dan lingkungan. Menurut IARSI, tanpa langkah struktural tersebut, tekanan harga dari sektor non-produksi akan terus menjadi pemicu inflasi pangan yang sulit dikendalikan.
postL iarsi.org
