OPINI | Kolom Ekonomi

Oleh:
R. Beniadi Setiawan

(Ketua Umum IARSI, Associate Professor (Hon), Profesional Praktisi & Tenaga Ahli Utama bidang Manajemen Rantai Suplai)


National Logistics Ecosystem (NLE) sering disebut sebagai lompatan besar Indonesia menuju sistem logistik modern. Di atas kertas, konsep ini nyaris sempurna: integrasi lintas instansi, digitalisasi end-to-end, dan efisiensi biaya serta waktu yang dijanjikan bisa mencapai puluhan persen.

Namun, setelah beberapa tahun berjalan, pertanyaan yang lebih jujur mulai muncul: apakah NLE benar-benar sudah menjadi “ekosistem”, atau masih sekadar “platform yang belum sepenuhnya hidup”?

Di pelabuhan utama seperti Pelabuhan Tanjung Priok, digitalisasi memang terlihat. Sistem semakin terhubung, dokumen makin minim kertas, dan proses mulai terdigitalisasi. Tetapi di luar titik-titik utama itu, realitasnya berbeda: banyak pelaku logistik masih berjalan dengan sistem ganda—digital di satu sisi, manual di sisi lain.

Inilah paradoks NLE: modern di pusat, tetapi fragmentatif di pinggiran.

Masalah pertama: teknologi berjalan lebih cepat dari manusia

NLE dibangun dengan asumsi bahwa digitalisasi akan otomatis diikuti oleh adaptasi SDM. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak operator, pelaku usaha kecil, hingga sebagian institusi daerah masih kesulitan mengadopsi sistem baru.

Akibatnya, teknologi yang seharusnya mempercepat justru sering menjadi lapisan tambahan kompleksitas.

Masalah kedua: integrasi belum benar-benar “terintegrasi”

NLE dirancang untuk menyatukan banyak sistem. Namun dalam praktik, ego sektoral dan perbedaan standar data antar lembaga masih menjadi hambatan klasik. Integrasi yang seharusnya real-time masih menyisakan celah input berulang dan proses manual di titik tertentu.

Jika integrasi masih bisa “terputus di tengah jalan”, maka kata “ekosistem” masih terlalu optimistis.

Masalah ketiga: transformasi SDM belum menjadi prioritas utama

Di sinilah titik paling krusial. Reformasi logistik tidak bisa hanya mengandalkan sistem digital tanpa transformasi manusia di dalamnya. Kebutuhan industri kini sudah bergeser ke arah data, analitik, dan manajemen berbasis teknologi. Namun kesiapan SDM belum sepenuhnya mengejar.

Tanpa akselerasi kompetensi, NLE berisiko menjadi sistem canggih yang hanya digunakan sebagian optimal.

Antara ambisi dan realitas

Tidak adil jika mengatakan NLE gagal. Justru arah kebijakannya sudah tepat dan visioner. Tetapi masalah Indonesia hampir selalu sama: gap antara desain kebijakan dan implementasi lapangan.

Negara ini tidak kekurangan strategi. Yang sering kurang adalah eksekusi yang konsisten, terukur, dan merata.

Catatan untuk masa depan: dari digitalisasi ke “human upgrade”

Jika NLE ingin benar-benar menjadi fondasi logistik nasional, maka fokus tidak bisa hanya pada sistem. Pemerintah perlu mempercepat “human upgrade” di sektor logistik: pelatihan masif, sertifikasi kompetensi, dan penyederhanaan sistem agar mudah diadopsi semua level pelaku usaha.

Tanpa itu, digitalisasi hanya akan menciptakan kesenjangan baru: antara yang siap dan yang tertinggal.

NLE adalah proyek penting. Tetapi seperti banyak reformasi besar lainnya di Indonesia, keberhasilannya tidak ditentukan oleh seberapa canggih sistemnya, melainkan seberapa siap manusianya menjalankannya.

Dan di titik itulah, pertanyaan sesungguhnya masih terbuka:  

apakah kita sedang membangun ekosistem digital logistik nasional yang terintegrasi dan sangat dibutuhkan oleh lapisan pemerintah, dunia usaha dan industri, atau sekedar menambahkan lapisan teknologi di atas sistem yang belum sepenuhnya siap?

 

Post: iarsi.org