Foto: Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno
Bekasi — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI mengingatkan pemerintah untuk bersiap menghadapi potensi lonjakan harga sejumlah kebutuhan pokok, termasuk produk berbasis plastik, pupuk, dan pangan yang menjadi tekanan baru bagi konsumen dan pelaku usaha nasional. Pernyataan ini disampaikan seiring meningkatnya ketidakpastian pasokan global akibat krisis energi dan gangguan distribusi di jalur strategis Selat Hormuz.
Eddy Soeparno menyampaikan bahwa berkurangnya pasokan minyak dan gas dunia sebagai dampak dari penutupan jalur tersebut berpotensi mendorong biaya produksi barang‑barang berbasis hidrokarbon — seperti plastik kemasan, pupuk berbasis gas, obat‑obatan, dan sejumlah komoditas manufaktur lain — untuk melonjak signifikan. Hal ini dapat berujung pada peningkatan harga jual di tingkat konsumen.
Menurutnya, lonjakan harga pupuk secara langsung akan mempengaruhi sektor pertanian dan harga pangan secara umum, karena pupuk menjadi input penting produksi pertanian. Eddy menyatakan pemerintah perlu mengantisipasi gejolak ini dengan strategi kebijakan yang tepat, termasuk perlindungan daya beli masyarakat, terutama kalangan ekonomi lemah.
Di tengah sorotan ini, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menekankan pentingnya penguatan struktur rantai pasok nasional sebagai bagian dari respons strategis terhadap tantangan tersebut. Menurut Ketua Umum IARSI Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, ST,MM,Ph.D,. Penguatan sistem rantai pasok pangan dan barang kebutuhan dasar bisa meningkatkan efisiensi distribusi, mengurangi biaya logistik, dan memperkuat ketahanan nasional terhadap risiko eksternal.
Beniadi Setiawan juga menyerukan percepatan adopsi digitalisasi dan kolaborasi lintas sektor dalam rantai pasok, termasuk kemitraan antara pelaku usaha besar, UMKM, dan penyedia jasa logistik. Langkah ini dinilai krusial untuk menekan biaya operasional dan mencegah efek domino dari kenaikan harga bahan baku global.
Beberapa pakar supply chain IARSI menilai bahwa ketergantungan pada impor bahan baku dan distribusi yang belum optimal memperbesar risiko lonjakan harga ketika terjadi gejolak di pasar internasional. Para pakar supply chain IARSI merekomendasikan Penguatan jaringan pergudangan domestik, diversifikasi sumber pasokan, dan optimalisasi perencanaan logistik.
Pernyataan dari MPR dan masukan Ikatan Ahli Rantai Supali Indonesia (IARSI) datang di tengah tekanan global yang memaksa pemerintah mengevaluasi berbagai kebijakan ekonomi dan logistik. Upaya kolektif antara pemerintah, asosiasi profesional seperti IARSI, dan pelaku industri dianggap kunci dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya merespons lonjakan harga, tetapi juga meningkatkan ketahanan dan daya saing perekonomian nasional secara berkelanjutan.
