Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang di Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Batang - Upaya menekan tingginya biaya logistik nasional mulai diarahkan ke daratan. PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menggagas pembangunan dry port di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) sebagai simpul baru distribusi barang berbasis rel.

Langkah ini menandai perubahan pendekatan dari sistem logistik yang selama ini bergantung pada pelabuhan laut, menuju model terintegrasi antara kawasan industri, transportasi kereta, dan jaringan pelabuhan.

Dry port dirancang sebagai pusat layanan kepelabuhanan di darat, memungkinkan proses ekspor-impor dilakukan lebih dekat dengan lokasi produksi. Dengan konsep ini, arus barang tidak lagi harus menumpuk di pelabuhan utama sebelum diproses.

Selain mempercepat waktu pengiriman, pendekatan tersebut juga diharapkan mengurangi biaya distribusi yang selama ini membebani pelaku industri.

Kolaborasi proyek ini melibatkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama pengelola kawasan industri dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Integrasi moda transportasi berbasis rel menjadi fokus utama dalam pengembangan dry port Batang. Sistem ini dipandang lebih stabil dibandingkan angkutan jalan yang rentan terhadap kemacetan dan fluktuasi biaya operasional.

Pemanfaatan kereta api untuk distribusi barang diyakini mampu:

  • Menjaga ketepatan waktu pengiriman

  • Menekan biaya angkut dalam skala besar

  • Mengurangi kepadatan lalu lintas logistik di jalur darat

Dry port Batang direncanakan berdiri di atas lahan puluhan hektare dengan kapasitas ratusan ribu TEUs per tahun pada tahap awal. Dalam jangka panjang, kapasitas tersebut diproyeksikan meningkat seiring berkembangnya aktivitas industri di kawasan Batang.

Tahapan proyek dimulai dari perencanaan pada 2026, dilanjutkan konstruksi, hingga operasional yang menyesuaikan kebutuhan pasar dan investasi industri.

Keberadaan dry port dinilai tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas logistik, tetapi juga sebagai daya tarik investasi. Infrastruktur distribusi yang efisien menjadi faktor penting bagi perusahaan dalam menentukan lokasi produksi.

Dengan sistem yang lebih terintegrasi, pemerintah berharap biaya logistik nasional dapat ditekan, sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

IARSI: Tekankan Pentingnya Pembenahan Sistem Logistik

Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai pengembangan dry port merupakan langkah maju dalam reformasi logistik nasional, namun mengingatkan bahwa keberhasilan proyek tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan fisik.

IARSI menekankan bahwa tantangan utama justru terletak pada integrasi sistem dan tata kelola operasional. Tanpa sinkronisasi antar lembaga, digitalisasi proses, serta standar layanan yang jelas, dry port berpotensi tidak memberikan dampak signifikan terhadap penurunan biaya logistik.

Selain itu, IARSI juga menyoroti pentingnya konektivitas end-to-end, mulai dari kawasan industri, transportasi rel, hingga pelabuhan laut. Ketidakseimbangan di salah satu titik rantai pasok dinilai dapat menciptakan bottleneck baru yang justru menghambat distribusi barang.

Pengembangan dry port di Batang mencerminkan arah baru kebijakan logistik nasional—bergeser dari pembangunan fisik pelabuhan ke integrasi sistem distribusi secara menyeluruh.

Namun efektivitasnya masih akan sangat bergantung pada:

  • Sinkronisasi antar lembaga dan operator

  • Kesiapan jaringan rel logistik

  • Efisiensi operasional di lapangan

Tanpa koordinasi yang kuat, proyek ini berpotensi hanya menjadi tambahan infrastruktur tanpa dampak signifikan terhadap penurunan biaya logistik.

Sebaliknya, jika berjalan optimal, dry port Batang bisa menjadi model baru pengelolaan rantai pasok nasional yang lebih modern dan efisien.

post: iarsi.org