Bekasi – Peralihan distribusi energi dari moda truk ke kereta api semakin menguat di Indonesia seiring dorongan efisiensi dan ketahanan pasokan nasional. Operator seperti PT Kereta Api Indonesia melalui KAI Logistik mulai memperluas layanan angkutan batu bara berbasis rel di sejumlah wilayah, terutama di Sumatera.
Pengembangan infrastruktur pendukung seperti terminal muat dan fasilitas logistik menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat distribusi energi dari tambang menuju pelabuhan dan pembangkit listrik. Sistem ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada jalan raya yang selama ini menjadi jalur utama angkutan batu bara.
Perubahan tersebut tidak terlepas dari kebijakan pembatasan angkutan batu bara di jalan umum di beberapa daerah. Kebijakan ini diambil untuk menekan kerusakan infrastruktur jalan, mengurangi kemacetan, serta meminimalkan konflik sosial yang kerap terjadi akibat aktivitas truk tambang.
Moda kereta api dinilai memiliki sejumlah keunggulan, antara lain kapasitas angkut besar, jadwal yang lebih teratur, serta biaya logistik yang lebih efisien untuk jarak jauh. Selain itu, penggunaan kereta juga dianggap lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan angkutan berbasis truk.
Namun demikian, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai bahwa peralihan moda transportasi ini belum cukup untuk menyelesaikan persoalan logistik secara menyeluruh. Diperlukan integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir agar distribusi energi dapat berjalan optimal dan tidak menimbulkan hambatan baru.
IARSI juga menyoroti potensi tantangan seperti keterbatasan jaringan rel, kebutuhan investasi besar, serta risiko bottleneck di titik distribusi seperti pelabuhan dan terminal. Selain itu, aspek keadilan bagi pelaku usaha kecil menjadi perhatian agar tidak terjadi dominasi oleh perusahaan besar yang memiliki akses terhadap infrastruktur rel.
Secara keseluruhan, peralihan logistik energi ke kereta api dinilai sebagai langkah strategis dalam transformasi sistem logistik nasional. Namun, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, integrasi sistem, serta kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk menciptakan rantai pasok yang efisien dan berkelanjutan.
Post: iarsi.org