Bekasi - Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia menilai kondisi pergudangan nasional saat ini masih menghadapi kesenjangan besar antara kebutuhan industri dan kapasitas modern yang tersedia. Dalam kajian terbarunya, sektor pergudangan disebut sebagai salah satu titik lemah dalam rantai pasok Indonesia yang berdampak langsung terhadap tingginya biaya logistik.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa peran gudang dalam sistem logistik sangat krusial, tidak hanya sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga sebagai pusat pengendali arus barang. Namun, masih banyak fasilitas pergudangan di Indonesia yang belum dikelola secara optimal, mulai dari tata letak yang tidak efisien hingga sistem pengelolaan yang belum terstandarisasi.

Di sisi lain, permintaan terhadap gudang modern justru meningkat pesat. Data terbaru menunjukkan tingkat okupansi gudang logistik di kawasan industri utama seperti Jabodetabek telah menembus 95 persen pada awal 2026, menandakan keterbatasan pasokan di tengah lonjakan kebutuhan dari sektor e-commerce dan logistik pihak ketiga. 

Fenomena serupa juga tercermin dalam laporan industri properti logistik, di mana tingkat hunian gudang modern mencapai lebih dari 90 persen dalam beberapa tahun terakhir. Tingginya permintaan ini tidak diimbangi dengan ketersediaan fasilitas baru, sehingga menyebabkan kesenjangan antara supply dan demand semakin melebar. 

Kajian akademik turut menegaskan bahwa tingginya biaya logistik di Indonesia, yang dapat mencapai sekitar 20 persen dari harga barang, tidak lepas dari mahalnya biaya penyimpanan dan distribusi. Inefisiensi dalam sistem pergudangan menjadi salah satu faktor yang memperbesar beban biaya tersebut. 

Selain itu, banyak gudang di Indonesia masih mengandalkan sistem manual dalam pengelolaan inventaris. Kurangnya digitalisasi dan transparansi menyebabkan kesalahan pencatatan, penumpukan barang, serta keterlambatan distribusi yang pada akhirnya berdampak pada keseluruhan rantai pasok. 

Menurut, Beniadi Setiawan (Ketua Umum IARSI, Associate Professor (Hon), Profesional Praktisi & Tenaga Ahli Utama bidang Manajemen Rantai Suplai), modernisasi pergudangan menjadi kebutuhan mendesak untuk mendukung efisiensi logistik nasional. Tanpa pengembangan gudang berbasis teknologi, perluasan cold storage, serta integrasi dengan sistem transportasi, upaya menurunkan biaya logistik dan meningkatkan daya saing Indonesia akan sulit tercapai.


Post: iarsi.org