Bekasi - Transformasi sektor logistik nasional dari kendaraan berbasis diesel menuju Electric Vehicle (EV) diperkirakan akan memasuki fase transisi penting pada periode 2025–2035. Perubahan ini dinilai bukan lagi sekadar tren transportasi ramah lingkungan, melainkan bagian dari transformasi besar rantai pasok industri masa depan yang akan mempengaruhi struktur ekonomi, energi, hingga daya saing nasional.
Di Indonesia, penggunaan kendaraan logistik berbasis EV memang masih berada pada tahap awal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan logistik, e-commerce, hingga kawasan industri mulai melakukan uji coba armada listrik untuk distribusi perkotaan dan pengiriman jarak pendek. Pemerintah juga mulai memperluas pembangunan infrastruktur pengisian daya, memperkuat hilirisasi baterai berbasis nikel, dan memberikan berbagai insentif kendaraan listrik.
Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menilai periode 2025–2035 akan menjadi fase penentu arah transformasi logistik nasional. Menurutnya, sektor logistik global sedang bergerak menuju sistem distribusi berbasis energi baru, digitalisasi, dan kendaraan rendah emisi.
“Periode 2025 sampai 2035 kemungkinan menjadi fase transisi terbesar sektor logistik global. Indonesia harus memanfaatkan momentum ini agar tidak tertinggal dalam perebutan rantai pasok industri masa depan,” ujar R. Beniadi Setiawan dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, selama puluhan tahun sistem logistik nasional sangat bergantung pada kendaraan diesel dan energi fosil. Namun perkembangan teknologi baterai, pertumbuhan industri EV, serta tekanan global terhadap pengurangan emisi mulai mengubah arah industri transportasi dan distribusi barang secara global.
Menurut IARSI, transformasi menuju logistik EV akan berdampak langsung terhadap efisiensi rantai pasok nasional. Kendaraan listrik dinilai memiliki potensi menekan biaya operasional melalui pengurangan konsumsi BBM, biaya perawatan yang lebih rendah, serta integrasi sistem digital untuk pengelolaan armada dan distribusi barang. Dampaknya dapat mempengaruhi biaya logistik nasional yang selama ini masih relatif tinggi dibanding sejumlah negara lain.
Selain faktor ekonomi, perubahan ini juga berkaitan erat dengan perubahan rantai pasok global. Negara-negara besar seperti China dan United States saat ini tengah bersaing membangun dominasi industri baterai, kendaraan listrik, dan logistik pintar berbasis teknologi digital. Indonesia dinilai memiliki posisi strategis karena memiliki cadangan nikel besar yang menjadi bahan utama baterai EV dunia.
Meski demikian, IARSI mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan besar dalam proses transisi tersebut. Infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan berat dinilai belum merata, harga kendaraan logistik listrik masih relatif tinggi, serta sebagian besar armada logistik nasional masih berbasis diesel konvensional. Selain itu, kesiapan industri lokal dan sumber daya manusia dalam menghadapi transformasi teknologi juga dinilai perlu diperkuat.
Di sisi lain, pemerintah mulai menunjukkan dukungan terhadap pengembangan ekosistem EV melalui pembangunan SPKLU, insentif kendaraan listrik, serta penguatan hilirisasi industri baterai nasional. Namun sejumlah pengamat menilai dukungan terhadap transformasi logistik berat masih perlu dipercepat agar Indonesia tidak tertinggal dari perkembangan industri global.
Menurut IARSI, sektor logistik akan menjadi salah satu sektor paling strategis dalam era transisi energi dan digitalisasi industri. Modernisasi armada distribusi berbasis EV diperkirakan tidak hanya mengubah pola transportasi barang, tetapi juga membentuk sistem rantai pasok nasional yang lebih efisien, terintegrasi, dan kompetitif.
“Negara yang mampu menguasai rantai pasok EV dan logistik pintar akan memiliki keunggulan ekonomi baru di masa depan. Indonesia memiliki peluang besar karena sumber daya dan pasarnya kuat, tetapi harus bergerak cepat agar tidak hanya menjadi pasar bagi industri asing,” tegas R. Beniadi Setiawan.
IARSI menilai dekade 2025–2035 akan menjadi masa transisi penting bagi Indonesia dalam menentukan posisi di tengah perubahan besar industri logistik global. Jika mampu membangun ekosistem EV dan rantai pasok nasional secara terintegrasi, Indonesia dinilai berpeluang menjadi salah satu pusat logistik dan industri kendaraan listrik terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Post. iarsi.org
