Ilustrasi by. irasi.org - AI


Bekasi - Menurut pandangan Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), Hari Raya Iduladha 2026 hadir dalam situasi ekonomi yang penuh dinamika. Di satu sisi, aktivitas konsumsi masyarakat mulai menunjukkan perbaikan pascaperlambatan ekonomi global dan tekanan inflasi beberapa tahun terakhir. Namun di sisi lain, kemampuan daya beli masyarakat masih belum pulih secara merata, terutama pada kelompok menengah bawah yang paling sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya energi, dan ongkos distribusi pangan.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menilai bahwa pelaksanaan kurban tahun ini menjadi indikator penting untuk membaca kesehatan ekonomi domestik. Tradisi kurban tidak hanya merefleksikan nilai spiritual dan solidaritas sosial, tetapi juga menggambarkan tingkat kepercayaan diri masyarakat dalam melakukan konsumsi sosial-keagamaan. Ketika partisipasi kurban meningkat, hal itu menunjukkan adanya optimisme ekonomi. Sebaliknya, jika terjadi perlambatan transaksi kurban, maka hal tersebut dapat menjadi sinyal melemahnya daya beli masyarakat.

Secara nasional, Iduladha 2026 diperkirakan tetap menjadi motor penggerak ekonomi musiman yang signifikan. Perputaran ekonomi tidak hanya terjadi di sektor peternakan, tetapi juga melibatkan transportasi, perdagangan pakan ternak, jasa logistik, platform digital, UMKM pengolahan pangan, hingga sektor distribusi kemasan dan pendingin. Efek berganda ekonomi kurban mampu menghidupkan aktivitas ekonomi daerah, khususnya sentra peternakan sapi dan kambing di berbagai provinsi.

Namun demikian, Beniadi Setiawan menegaskan bahwa persoalan utama Indonesia masih berada pada aspek efisiensi rantai pasok nasional. Tingginya biaya logistik domestik membuat disparitas harga hewan kurban antarwilayah masih cukup tajam. Distribusi ternak dari sentra produksi menuju wilayah konsumsi menghadapi tantangan panjang, mulai dari keterbatasan infrastruktur jalan, biaya transportasi antarpulau, minimnya fasilitas karantina modern, hingga belum optimalnya integrasi data distribusi nasional.

Kondisi tersebut menyebabkan harga hewan kurban di beberapa daerah mengalami kenaikan yang tidak sepenuhnya dipicu oleh faktor produksi, melainkan akibat inefisiensi distribusi. Dalam perspektif rantai suplai, biaya logistik yang tinggi pada akhirnya menjadi beban tambahan bagi masyarakat sebagai konsumen akhir. Karena itu, Iduladha setiap tahun seharusnya menjadi momentum evaluasi nasional terhadap kesiapan sistem logistik pangan dan peternakan Indonesia.

Beniadi Setiawan juga menyoroti pentingnya transformasi digital dalam tata kelola rantai pasok hewan kurban. Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan ternak berbasis platform digital berkembang cukup pesat dan membantu memperpendek mata rantai distribusi. Transparansi harga, pelacakan asal ternak, hingga sistem pembayaran digital mulai meningkatkan efisiensi pasar. Namun transformasi tersebut masih belum merata, terutama di wilayah pedesaan dan sentra peternakan tradisional yang memiliki keterbatasan akses teknologi serta pembiayaan.

Dari sisi strategis, Iduladha 2026 memperlihatkan bahwa ketahanan pangan nasional tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan produksi, tetapi juga kemampuan distribusi yang adil, cepat, dan efisien. Indonesia sesungguhnya memiliki potensi peternakan domestik yang besar, tetapi tanpa dukungan sistem rantai pasok modern, nilai ekonomi yang diterima peternak akan tetap rendah sementara harga di tingkat konsumen terus tinggi. Ketimpangan inilah yang perlu dibenahi secara struktural.

Menurut Beniadi Setiawan pemerintah perlu mempercepat agenda reformasi logistik nasional melalui penguatan konektivitas antardaerah, modernisasi pelabuhan distribusi pangan, pembangunan cold chain nasional, serta integrasi data supply-demand ternak secara real time. Selain itu, penguatan koperasi peternak dan akses pembiayaan logistik menjadi langkah penting agar peternak lokal memiliki posisi tawar yang lebih kuat di pasar nasional.

Dalam jangka panjang, Hari Raya Kurban seharusnya dipandang sebagai momentum konsolidasi ekonomi kerakyatan. Distribusi daging kurban mencerminkan semangat pemerataan, sementara aktivitas ekonomi di belakangnya mencerminkan pentingnya keadilan dalam sistem distribusi nasional. Jika rantai pasok nasional mampu diperkuat, maka Iduladha bukan hanya menjadi perayaan keagamaan tahunan, tetapi juga instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, menjaga stabilitas harga pangan, serta meningkatkan kesejahteraan peternak dan masyarakat secara berkelanjutan.

Post: iarsi.org