Kegiatan Penjajakan Peluang Bisnis IKM Alat Angkut dalam Rantai Pasok KBLBB yang di selenggarakan Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal ILMATE, Kementerian Investasi/BKPM, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT VKTR Teknologi Mobilitas di Cikarang, Jawa Barat, pada 22 Mei 2026..
Bekasi - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional dengan mendorong keterlibatan industri kecil dan menengah (IKM) dalam rantai pasok kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Langkah ini dinilai menjadi bagian penting dalam transformasi industri nasional menuju ekonomi hijau sekaligus memperkuat daya saing manufaktur Indonesia di tingkat global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pemain utama industri kendaraan listrik dunia. Potensi tersebut didukung ketersediaan sumber daya alam strategis, pasar domestik yang besar, serta komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.
Pemerintah juga terus memperkuat arah kebijakan melalui Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan. Menurut Menperin, pengembangan industri kendaraan listrik tidak boleh hanya didominasi industri besar, melainkan juga harus melibatkan IKM nasional agar terjadi transfer teknologi, peningkatan kapasitas produksi, dan penguatan struktur industri nasional secara menyeluruh.
Sebagai langkah konkret, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) bersama Direktorat Jenderal ILMATE, Kementerian Investasi/BKPM, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT VKTR Teknologi Mobilitas menggelar penjajakan peluang bisnis IKM alat angkut dalam rantai pasok kendaraan listrik di Cikarang, Jawa Barat.
Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku IKM komponen otomotif dengan industri besar kendaraan listrik guna membuka peluang kemitraan strategis. Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengatakan kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada IKM mengenai kebutuhan industri kendaraan listrik, termasuk standar kualitas dan pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Perkembangan industri kendaraan listrik nasional sendiri menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil listrik berbasis baterai pada triwulan I 2026 mencapai 33.150 unit atau tumbuh 95,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara populasi kendaraan listrik roda dua telah menembus lebih dari 236 ribu unit hingga Februari 2026.
Pertumbuhan tersebut turut ditopang pembangunan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik. Data PT PLN mencatat hingga April 2026 telah tersedia 4.769 unit SPKLU di 3.097 lokasi di Indonesia dan jumlahnya ditargetkan terus meningkat hingga 2030.
Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai langkah Kemenperin tersebut merupakan strategi penting dalam memperkuat fondasi industri masa depan Indonesia. Menurut IARSI, pengembangan ekosistem kendaraan listrik tidak dapat hanya bergantung pada investasi manufaktur besar atau aktivitas perakitan kendaraan semata, melainkan membutuhkan integrasi rantai pasok nasional secara menyeluruh.
“IKM harus menjadi bagian penting dalam rantai pasok kendaraan listrik nasional, baik sebagai pemasok komponen, penyedia material pendukung, jasa logistik, hingga layanan distribusi. Dengan keterlibatan IKM, Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi berpeluang menjadi basis produksi dan pemasok komponen kendaraan listrik regional,” ujar IARSI dalam analisanya.
Menurut IARSI kebijakan tersebut membuka peluang besar bagi IKM nasional untuk naik kelas menjadi bagian dari industri strategis global. Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait standardisasi kualitas, sertifikasi industri, akses bahan baku, hingga integrasi dengan industri besar.
Karena itu, program pendampingan, restrukturisasi mesin, sertifikasi industri, dan fasilitasi link and match yang dilakukan pemerintah dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat kesiapan industri lokal menghadapi perubahan besar industri otomotif global.
Dari perspektif rantai suplai, IARSI menilai transformasi kendaraan listrik akan mengubah struktur industri otomotif nasional. Jika sebelumnya rantai pasok didominasi komponen mesin mekanik, maka kendaraan listrik akan lebih banyak membutuhkan baterai, sistem elektronik, semikonduktor, sensor, kabel, perangkat digital, dan sistem energi.
Perubahan tersebut dinilai membuka peluang tumbuhnya industri baru di Indonesia, namun sekaligus menjadi tantangan besar bagi kesiapan industri domestik dalam mengejar perkembangan teknologi global.
Selain sektor manufaktur, IARSI juga menyoroti pentingnya penguatan ekosistem logistik kendaraan listrik nasional. Menurut organisasi tersebut, keberhasilan industri EV nasional tidak hanya ditentukan kapasitas produksi kendaraan, tetapi juga kesiapan rantai pasok bahan baku, pusat distribusi komponen, infrastruktur pengisian daya, sistem pergudangan modern, hingga efisiensi transportasi antarwilayah.
Tanpa integrasi rantai pasok yang kuat, biaya logistik dinilai berpotensi menjadi hambatan utama terhadap daya saing industri kendaraan listrik Indonesia di pasar global.
IARSI juga mengingatkan bahwa penguatan TKDN harus dilakukan secara bertahap namun konsisten agar Indonesia tidak hanya menjadi basis perakitan produk impor. Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pusat produksi kendaraan listrik regional karena didukung cadangan nikel yang besar, pasar domestik yang luas, dan dukungan kebijakan pemerintah.
Namun demikian, IARSI menegaskan bahwa transformasi industri kendaraan listrik tidak boleh hanya fokus pada hilirisasi sumber daya alam. Penguatan riset, transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia industri, dan digitalisasi rantai pasok disebut menjadi faktor penentu keberhasilan Indonesia dalam membangun industri kendaraan listrik yang berkelanjutan dan kompetitif secara global.
Menurut IARSI, keterlibatan IKM dalam ekosistem kendaraan listrik juga berpotensi menciptakan efek ekonomi berantai yang besar, mulai dari penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan industri komponen lokal, peningkatan investasi manufaktur, hingga pemerataan ekonomi industri di berbagai daerah Indonesia.
Post : iarsi.org
