Bekasi - Pemerintah Indonesia dan Filipina memperkuat kerja sama strategis dalam pengembangan rantai pasok mineral kritis global guna mendukung percepatan transisi energi dan industri hijau. Kerja sama tersebut dinilai menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi kedua negara di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral strategis seperti nikel, tembaga, dan logam tanah jarang untuk industri baterai kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Kerja sama bilateral itu mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk para ahli ekonomi, pengamat industri, dan pelaku rantai pasok nasional. Mereka menilai sinergi Indonesia dan Filipina dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat daya saing kawasan ASEAN dalam rantai pasok global berbasis energi hijau.

Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menyatakan bahwa kolaborasi Indonesia dan Filipina akan membuka peluang besar bagi penguatan ekosistem industri nasional. Menurutnya, kerja sama tersebut bukan hanya soal perdagangan mineral mentah, melainkan bagian dari strategi membangun rantai pasok terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Indonesia memiliki kekuatan pada sumber daya mineral dan hilirisasi, sementara Filipina juga memiliki potensi produksi bahan baku strategis yang besar. Jika dikelola secara kolaboratif, kedua negara dapat menjadi pusat rantai pasok energi hijau di kawasan Asia Tenggara,” ujar Beniadi.

Ia menjelaskan, pengembangan rantai pasok berbasis energi hijau akan mendorong terciptanya sistem logistik dan industri yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan. Selain itu, peningkatan investasi pada sektor pengolahan mineral diyakini mampu menciptakan lapangan kerja baru serta memperkuat industri manufaktur nasional.

Para ahli ekonomi juga menilai kerja sama tersebut berpotensi meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia. Selama ini Indonesia lebih banyak mengekspor bahan mentah, namun melalui kebijakan hilirisasi dan kerja sama regional, Indonesia berpeluang memperbesar ekspor produk olahan bernilai tinggi seperti prekursor baterai, katoda, hingga komponen kendaraan listrik.

Pengamat industri menilai langkah Indonesia dan Filipina dapat menjadi momentum penting bagi ASEAN untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara besar dalam rantai pasok global. Dengan kolaborasi antarnegara penghasil mineral strategis, kawasan ASEAN dinilai memiliki peluang menjadi pemain utama dalam industri energi bersih dunia.

Selain manfaat ekonomi, kerja sama tersebut juga dinilai dapat mempercepat transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia. Kehadiran investasi asing di sektor pengolahan mineral diperkirakan akan membawa teknologi baru yang lebih modern dan ramah lingkungan, sehingga mampu meningkatkan kualitas industri nasional.

Menurut Beniadi, penguatan rantai pasok mineral kritis tidak hanya berdampak pada sektor industri, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam jangka panjang. Ia menilai integrasi rantai pasok regional akan membantu Indonesia menghadapi tantangan global seperti gangguan distribusi, fluktuasi harga komoditas, hingga persaingan industri internasional.

Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa pengembangan industri mineral harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan. Pemerintah dinilai perlu memastikan hilirisasi berjalan seimbang dengan perlindungan lingkungan, tata kelola pertambangan yang baik, serta peningkatan kualitas tenaga kerja nasional.

Melalui kerja sama strategis ini, Indonesia dan Filipina diharapkan mampu memainkan peran lebih besar dalam mendukung transisi energi global. Dengan kekuatan sumber daya alam, dukungan kebijakan hilirisasi, dan penguatan rantai pasok regional, kedua negara berpotensi menjadi pusat industri energi hijau dan mineral kritis dunia di masa mendatang.

post; iarsi.org