Bekasi - Pembangunan infrastruktur dan penguatan sistem rantai suplai nasional dinilai akan menjadi faktor utama yang menentukan arah masa depan ekonomi Indonesia dalam satu dekade mendatang. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, efisiensi distribusi barang, konektivitas antarwilayah, hingga integrasi transportasi multimoda menjadi kunci penting dalam menciptakan daya saing nasional yang berkelanjutan. Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam, tetapi juga harus mampu membangun ekosistem supply chain yang modern, efisien, dan terintegrasi.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menegaskan bahwa kekuatan rantai suplai akan menjadi penentu utama dalam persaingan ekonomi global di masa depan. Menurutnya, negara yang mampu membangun sistem distribusi yang efisien akan memiliki keunggulan dalam perdagangan, industri, dan investasi.
“Negara yang mampu menguasai rantai suplai akan menguasai perdagangan dan pertumbuhan ekonomi masa depan. Infrastruktur dan supply chain adalah tulang punggung daya saing Indonesia,” ujar Beniadi dalam forum strategis IARSI.
Ia menjelaskan, program hilirisasi industri yang tengah didorong pemerintah tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan sistem logistik nasional yang kuat. Pelabuhan, jalan tol, kawasan industri, jalur kereta logistik, hingga digitalisasi distribusi harus menjadi satu kesatuan yang saling terhubung agar mampu menciptakan efisiensi ekonomi secara menyeluruh.
Kajian terhadap kondisi infrastruktur nasional saat ini menunjukkan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menciptakan sistem logistik yang efisien dan kompetitif. Meskipun pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, dan kawasan industri terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir, biaya logistik nasional masih tergolong tinggi dibanding negara-negara ASEAN lainnya. Data menunjukkan biaya logistik Indonesia masih berada pada kisaran 14 hingga 23 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di atas standar negara maju yang berada di bawah 10 persen. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa konektivitas dan integrasi sistem distribusi nasional belum berjalan optimal.
Menurut Beniadi, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi sekadar membangun infrastruktur fisik, melainkan memastikan seluruh infrastruktur tersebut terhubung dalam sistem supply chain nasional yang efisien dan modern. Ia menilai tingginya ketergantungan distribusi terhadap jalur darat menyebabkan biaya transportasi nasional menjadi mahal, sementara pemanfaatan moda laut dan kereta api masih belum optimal.
“Indonesia sudah memiliki banyak proyek strategis nasional, tetapi tantangan berikutnya adalah integrasi antarmoda dan efisiensi rantai suplai. Infrastruktur tanpa konektivitas supply chain yang baik tidak akan menghasilkan daya saing maksimal,” katanya.
Data Kementerian Perhubungan menunjukkan biaya transportasi masih menyumbang lebih dari 60 persen total biaya logistik nasional. Karena itu, pemerintah mulai mendorong pengembangan transportasi multimoda dan digitalisasi logistik sebagai solusi jangka panjang untuk menekan biaya distribusi nasional. Dalam berbagai kesempatan, pemerintah juga menegaskan komitmennya memperkuat konektivitas nasional sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan ekonomi dan mempercepat pemerataan pembangunan.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menyatakan pemerintah tengah mempercepat pembangunan jaringan transportasi dan konektivitas logistik di luar Pulau Jawa guna mengurangi ketimpangan pembangunan antarwilayah. Menurutnya, penguatan jaringan rel dan transportasi nasional menjadi langkah strategis dalam menurunkan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi distribusi barang nasional.
Selain itu, sejumlah proyek strategis seperti pengembangan Pelabuhan Patimban, pembangunan akses tol logistik, kawasan industri terintegrasi, hingga penguatan National Logistics Ecosystem (NLE) dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem rantai pasok nasional. Namun para pengamat menilai tantangan terbesar tetap berada pada sinkronisasi kebijakan antarwilayah, kesiapan infrastruktur pendukung, dan konsistensi pembangunan jangka panjang.
IARSI juga menyoroti pentingnya pembangunan sumber daya manusia di sektor supply chain. Menurut Beniadi, transformasi industri logistik ke depan tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kesiapan tenaga profesional yang memahami digitalisasi, artificial intelligence, green logistics, dan sistem manajemen rantai suplai modern.
“Indonesia harus mulai mempersiapkan talenta logistik yang mampu bersaing secara global. Transformasi ekonomi tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan SDM supply chain yang kuat,” ujarnya.
Melalui berbagai inisiatif kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan dunia industri, IARSI menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis dalam pembangunan ekosistem rantai suplai nasional. Organisasi tersebut optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat logistik dan manufaktur regional apabila pembangunan infrastruktur dan supply chain dilakukan secara konsisten, terintegrasi, dan berorientasi jangka panjang. Menurut IARSI, masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara membangun sistem distribusi nasional yang efisien, modern, dan mampu menjangkau seluruh wilayah nusantara.
post: iarsi.org
