BEKASI - Kondisi pelabuhan tambat nelayan di Kampung Mentigi, Kelurahan Tanjunguban Kota, Kecamatan Bintan Utara, Kabupaten Bintan, dilaporkan mulai mengalami kerusakan serius. Salah satu tiang penyangga pelabuhan disebut telah amblas hingga tumbang, sementara bagian lantai pelabuhan juga mulai kropos dan dinilai membahayakan keselamatan warga serta nelayan yang setiap hari menggunakan fasilitas tersebut. 

Kerusakan pelabuhan yang menjadi akses utama aktivitas melaut masyarakat pesisir itu memicu kekhawatiran warga. Mereka menilai kondisi pelabuhan terus memburuk dan berpotensi ambruk apabila tidak segera dilakukan perbaikan oleh pemerintah daerah maupun instansi terkait.

Tokoh masyarakat Bintan Utara, Handani, meminta pemerintah segera turun tangan sebelum kerusakan semakin parah dan menimbulkan korban jiwa. Menurutnya, pelabuhan tambat nelayan tersebut memiliki peran vital dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir di wilayah Tanjunguban.

Ia menegaskan, pemerintah tidak seharusnya menunggu hingga pelabuhan benar-benar runtuh untuk mengambil tindakan. Warga berharap langkah cepat dilakukan agar aktivitas nelayan tetap berjalan aman dan lancar.

Camat Bintan Utara, Helmi Setyawati, membenarkan adanya kerusakan pada pelabuhan tambat nelayan di Kampung Mentigi. Pihak kecamatan, kata dia, telah melaporkan kondisi tersebut kepada dinas terkait untuk segera ditindaklanjuti.

Menurut Helmi, pelabuhan yang dibangun sekitar 15 tahun lalu itu sebelumnya juga pernah mengalami kerusakan akibat ditabrak kapal saat cuaca buruk dan gelombang tinggi. Kini, kondisi struktur pelabuhan dinilai semakin memprihatinkan karena sejumlah tiang mulai keropos dan bagian lantai mengalami penurunan. 

Menyoroti kondiri pelabuhan tambat nelayan di Kampung Mentigi, Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D. menilai kerusakan pelabuhan tambat nelayan di Mentigi tidak boleh dipandang hanya sebagai persoalan infrastruktur lokal semata, melainkan bagian penting dari sistem rantai pasok pangan dan ekonomi pesisir nasional.

Menurutnya, pelabuhan nelayan merupakan simpul distribusi utama yang menghubungkan aktivitas produksi hasil laut dengan pasar, industri pengolahan, hingga jalur distribusi antardaerah. Ketika infrastruktur dasar seperti dermaga dan pelabuhan mengalami kerusakan, maka dampaknya akan langsung dirasakan oleh nelayan, pedagang ikan, pelaku UMKM pesisir, hingga konsumen.

“Kerusakan pelabuhan nelayan akan meningkatkan biaya logistik masyarakat pesisir. Aktivitas bongkar muat menjadi terganggu, distribusi hasil tangkapan melambat, kualitas ikan bisa menurun, dan pada akhirnya pendapatan nelayan ikut terdampak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam perspektif rantai pasok, infrastruktur dasar seperti pelabuhan rakyat, jalan distribusi, cold storage, dan akses transportasi laut merupakan fondasi utama ekonomi daerah kepulauan seperti Bintan dan Kepulauan Riau. Karena itu, pemerintah didorong untuk menempatkan pembangunan serta perawatan infrastruktur ekonomi dasar sebagai prioritas utama pembangunan nasional dan daerah.

Menurut Beniadi Setiawan, banyak daerah pesisir di Indonesia menghadapi persoalan serupa, yakni minimnya pemeliharaan infrastruktur yang sebenarnya menjadi penopang aktivitas ekonomi harian masyarakat. Apabila dibiarkan, kerusakan infrastruktur akan menciptakan efek berantai terhadap stabilitas rantai pasok pangan laut, kenaikan biaya distribusi, hingga menurunkan daya saing ekonomi wilayah pesisir.

Selain faktor ekonomi,  Beniadi Setiawan juga menyoroti aspek keselamatan masyarakat. Infrastruktur pelabuhan yang rapuh dinilai berisiko menimbulkan kecelakaan bagi nelayan maupun warga yang menggunakan fasilitas tersebut setiap hari.

“Kita tidak boleh menunggu sampai ada korban jiwa baru dilakukan perbaikan besar. Infrastruktur dasar ekonomi harus menjadi prioritas karena dampaknya langsung terhadap keselamatan masyarakat dan keberlangsungan ekonomi rakyat,” tegasnya.

Warga berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera melakukan penanganan darurat sekaligus rehabilitasi menyeluruh terhadap pelabuhan tambat nelayan Mentigi agar aktivitas masyarakat pesisir dapat kembali berjalan aman dan normal. 

Post : iarsi.org