Bekasi – Langkah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) dalam memperkuat rantai pasok dan operasional perusahaan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global mendapat apresiasi dari Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI). Organisasi profesi tersebut menilai strategi yang diterapkan Krakatau Steel dapat menjadi model mitigasi risiko bagi industri nasional dalam menghadapi gangguan pasokan dan distribusi global.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menyatakan bahwa penguatan pemetaan rantai pasok (supply chain mapping), diversifikasi pemasok, serta pemanfaatan data pelayaran global yang dilakukan Krakatau Steel merupakan langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan industri di tengah berbagai tantangan global.

“Konflik geopolitik yang terjadi di sejumlah kawasan dunia memberikan dampak langsung terhadap jalur distribusi, biaya pengiriman, dan ketersediaan bahan baku. Karena itu, langkah Krakatau Steel dalam melakukan supply chain mapping yang lebih komprehensif serta memperluas sumber pemasok merupakan bentuk mitigasi risiko yang sangat penting,” ujarnya.

Penilaian tersebut sejalan dengan langkah yang tengah dijalankan Krakatau Steel dalam mengantisipasi dampak konflik global, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi distribusi logistik dan pasokan bahan baku industri baja.

Direktur Infrastruktur dan Operasi Krakatau Steel, Sidik Darusulistyo, mengatakan perusahaan telah melakukan peninjauan ulang strategi rantai pasok secara menyeluruh guna memastikan keberlangsungan operasional perusahaan.

“Krakatau Steel memperkuat sistem pemantauan logistik berbasis data pelayaran global serta meningkatkan koordinasi dengan mitra logistik untuk mendeteksi lebih dini potensi gangguan distribusi maupun lonjakan biaya logistik,” kata Sidik.

Selain memperluas sumber pemasok, Krakatau Steel Group juga secara berkala melakukan stress test dan analisis sensitivitas terhadap fluktuasi harga komoditas strategis. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas biaya produksi sekaligus meningkatkan daya tahan perusahaan terhadap berbagai risiko eksternal.

Menurut Beniadi Setiawan, strategi tersebut mencerminkan pendekatan rantai pasok modern yang tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga pada ketahanan (resilience) dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis global yang semakin dinamis.

Di sisi lain, komitmen Krakatau Steel dalam memperkuat ketahanan industri nasional juga diwujudkan melalui keterlibatan perusahaan dalam Proyek Hilirisasi Nasional Fase 2 yang diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto. Program strategis tersebut bertujuan memperkuat industri dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar dan pasokan luar negeri.

Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Akbar Djohan, Krakatau Steel Group memperoleh kepercayaan untuk menjalankan dua proyek hilirisasi strategis, yakni pengembangan industri carbon steel dan stainless steel. Kedua proyek tersebut diarahkan untuk mengurangi impor secara bertahap, mengantisipasi keterbatasan pasokan global, serta mengoptimalkan aset perusahaan agar lebih produktif.

Beniadi Setiawan menilai program hilirisasi tersebut akan memberikan dampak positif terhadap ketahanan rantai pasok nasional karena mampu memperkuat keterkaitan industri dari hulu hingga hilir.

“Semakin kuat ekosistem industri dari hulu hingga hilir di dalam negeri, maka semakin tinggi pula tingkat ketahanan rantai pasok nasional. Program hilirisasi yang dijalankan Krakatau Steel sejalan dengan upaya membangun kemandirian industri dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global,” tambahnya.

Akbar Djohan yang juga menjabat sebagai Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) menegaskan bahwa penguatan industri baja nasional merupakan bagian penting dari implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong hilirisasi industri, memperkuat ketahanan ekonomi, serta membangun industri strategis yang mandiri dan berdaya saing global.

Beniadi Setiawan berharap sinergi antara pelaku industri, pemerintah, penyedia jasa logistik, dan asosiasi profesi terus diperkuat agar Indonesia memiliki sistem rantai pasok yang lebih tangguh, efisien, dan mampu menghadapi berbagai tantangan geopolitik maupun ekonomi global di masa mendatang.


post: iarsi.org