Ilustrasi by. iarsi.org - AI

BEKASI - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan tekanan baru bagi pelaku industri berorientasi ekspor. Kondisi tersebut mendorong sejumlah eksportir melakukan penyesuaian strategi bisnis, mulai dari penghitungan ulang biaya produksi, efisiensi logistik, hingga negosiasi harga dengan pembeli di pasar global.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan pelaku ekspor terus melakukan penyesuaian terhadap fluktuasi kurs rupiah guna menjaga stabilitas usaha di tengah meningkatnya tekanan biaya operasional. Menurutnya, pelemahan rupiah membuat eksportir harus menghitung ulang struktur biaya produksi dan logistik yang sebagian masih dipengaruhi komponen impor. Selain itu, eksportir juga melakukan penyesuaian dalam negosiasi harga dan volume perdagangan dengan mitra luar negeri agar tetap kompetitif di pasar internasional. 

Di sisi lain, pelemahan rupiah dinilai memberi peluang bagi sejumlah sektor ekspor seperti petrokimia, plastik, dan crude palm oil (CPO), karena harga produk Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif di pasar global. Namun keuntungan tersebut dinilai belum sepenuhnya optimal karena biaya bahan baku impor, suku cadang industri, energi, serta tarif logistik global juga mengalami kenaikan.

Tekanan terhadap industri nasional mulai terlihat dari meningkatnya biaya produksi di berbagai sektor manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor. Pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap harga mesin produksi, komponen industri, biaya transportasi, hingga ongkos pengiriman internasional.

Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D. menilai pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada aktivitas ekspor-impor, tetapi juga memicu tekanan berantai terhadap sistem rantai pasok nasional secara keseluruhan. Menurutnya, hampir seluruh aktivitas logistik nasional masih memiliki keterkaitan dengan komponen berbasis dolar AS, mulai dari bahan bakar, biaya pengiriman internasional, asuransi logistik, suku cadang armada, hingga bahan baku industri.

“Ketika rupiah melemah, maka biaya di sepanjang rantai pasok ikut meningkat. Dampaknya bukan hanya dirasakan eksportir besar, tetapi juga pelaku UMKM, sektor distribusi, hingga konsumen akhir karena terjadi kenaikan biaya logistik dan produksi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelemahan kurs berpotensi menciptakan efek domino terhadap stabilitas distribusi nasional. Industri yang bergantung pada impor bahan baku akan menghadapi tekanan biaya lebih tinggi, sementara distributor dan perusahaan logistik harus menyesuaikan tarif operasional akibat kenaikan harga energi dan transportasi.

Menurut Beniadi Setiawan, kondisi tersebut dapat memicu perlambatan aktivitas produksi apabila perusahaan memilih menekan volume produksi demi menjaga efisiensi biaya. Jika berlangsung dalam jangka panjang, maka risiko terganggunya pasokan barang dan kenaikan harga di pasar domestik juga dapat meningkat.

Ia juga meminta pemerintah segera mengantisipasi potensi tekanan berantai terhadap sistem rantai pasok nasional akibat pelemahan rupiah yang terus berlanjut. Organisasi tersebut menilai gejolak nilai tukar dapat memicu gangguan berlapis mulai dari kenaikan biaya impor bahan baku, meningkatnya ongkos logistik, terganggunya arus distribusi, hingga menurunnya daya beli masyarakat.

Tekanan tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan jangka pendek semata karena dapat berdampak langsung terhadap stabilitas industri nasional dan ketahanan ekonomi domestik. Apalagi, sejumlah sektor strategis seperti pangan, energi, manufaktur, dan logistik masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap komponen impor dan transaksi berbasis dolar AS.

“Pemerintah perlu bergerak cepat mengantisipasi tekanan berantai pada rantai pasok nasional. Ketika biaya produksi dan distribusi naik secara bersamaan, maka risiko inflasi logistik dan terganggunya stabilitas pasokan barang juga ikut meningkat,” katanya.

Sektor pangan dan kebutuhan pokok menjadi salah satu area yang perlu diwaspadai. Sebab sebagian rantai distribusi pangan nasional masih dipengaruhi komponen impor seperti pakan, pupuk, mesin pertanian, hingga biaya transportasi laut dan darat. Jika tekanan kurs berlangsung lama, maka biaya distribusi pangan nasional berpotensi mengalami kenaikan yang dapat memengaruhi stabilitas harga di tingkat konsumen.

Selain itu, biaya logistik Indonesia yang masih relatif tinggi dibanding sejumlah negara di kawasan membuat dampak pelemahan rupiah semakin berat dirasakan pelaku usaha. Karena itu, pemerintah didorong mempercepat modernisasi sistem rantai pasok nasional melalui digitalisasi logistik, penguatan industri substitusi impor, pengembangan kawasan industri terintegrasi, serta peningkatan kapasitas pelabuhan dan transportasi multimoda.

Selanjutnya Beniadi Setiawan, mengatakan bahwa penguatan industri hulu domestik dan pembangunan infrastruktur ekonomi yang terintegrasi menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi nasional menghadapi gejolak global.

“Negara yang memiliki rantai pasok kuat akan lebih mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi global. Infrastruktur logistik, pelabuhan, jalan distribusi, dan efisiensi transportasi harus menjadi prioritas strategis nasional,” tegasnya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, banyak pelaku industri kini cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi usaha dan investasi baru. Sejumlah perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional sambil menunggu stabilitas nilai tukar dan kondisi pasar internasional membaik.


Post: iarsi.org