Foto: Kecelakaan bus ALS vs Tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Karang Jaya, Rabu (6/5/2026). (Arsip Polres Musi Rawas Utara


BEKASI - Kecelakaan maut yang melibatkan bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, kembali menyoroti pentingnya penerapan rantai pasok keselamatan dalam sektor transportasi darat. Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 16 orang setelah kedua kendaraan bertabrakan dan terbakar hebat. 

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan bahwa investigasi bersama kepolisian dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sedang dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan. Pemerintah juga menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan armada angkutan umum, kondisi infrastruktur jalan, serta pengawasan operasional perusahaan transportasi. 

Berdasarkan laporan awal, bus ALS diduga mengambil jalur berlawanan untuk menghindari lubang di jalan sebelum bertabrakan dengan truk tangki dari arah sebaliknya. Benturan keras tersebut kemudian memicu kebakaran besar yang menyebabkan banyak korban tidak sempat menyelamatkan diri. 

Peristiwa ini dinilai sebagai gambaran nyata lemahnya integrasi rantai pasok keselamatan transportasi, yang mencakup seluruh sistem pendukung perjalanan mulai dari kelayakan kendaraan, kualitas infrastruktur jalan, manajemen operasional, hingga kesiapan respons darurat.

Sorotan juga tertuju pada armada bus ALS yang dilaporkan telah berusia sekitar 24 tahun. Meski pihak perusahaan menyatakan kendaraan masih layak operasional dan rutin menjalani pemeriksaan, faktor usia kendaraan tetap menjadi perhatian dalam standar keselamatan transportasi nasional. (oto.detik.com)

Selain aspek kendaraan, kondisi infrastruktur jalan turut menjadi perhatian. Dugaan adanya kerusakan jalan yang memicu manuver penghindaran memperlihatkan bahwa keselamatan transportasi tidak hanya bergantung pada pengemudi, tetapi juga pada kualitas dan pengawasan jaringan jalan sebagai bagian dari rantai distribusi nasional.

Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menegaskan bahwa kecelakaan ini menunjukkan pentingnya pendekatan sistemik dalam keselamatan transportasi. Menurut IARSI, rantai pasok keselamatan tidak hanya berkaitan dengan kelancaran distribusi barang dan penumpang, tetapi juga mencakup kesiapan armada, standar infrastruktur, manajemen risiko operasional, serta koordinasi antarinstansi dalam mitigasi kecelakaan.

IARSI juga menekankan bahwa setiap titik dalam rantai transportasi memiliki peran krusial. Kegagalan pada satu elemen—seperti jalan rusak, pengawasan kendaraan yang lemah, atau minimnya sistem tanggap darurat—dapat memicu dampak berantai yang berujung pada korban jiwa serta terganggunya aktivitas logistik dan mobilitas masyarakat.

Sejumlah pengamat transportasi turut menilai bahwa rantai pasok keselamatan harus dipahami sebagai sistem yang saling terhubung antara operator transportasi, regulator, pengelola infrastruktur, pengawasan lalu lintas, hingga layanan darurat. Kelemahan pada satu titik dapat meningkatkan risiko kecelakaan besar.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa keselamatan transportasi merupakan bagian penting dari ketahanan rantai pasok nasional. Gangguan pada sistem transportasi tidak hanya berdampak pada korban jiwa, tetapi juga dapat memengaruhi distribusi logistik, aktivitas ekonomi, dan kepercayaan publik terhadap layanan transportasi umum.

Post: iarsi.org