Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) mendukung penuh terhadap langkah pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) dalam mendorong komoditas pangan Indonesia masuk ke dalam rantai pasok katering haji dan umrah di Arab Saudi.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menilai kebijakan tersebut merupakan terobosan strategis yang tidak hanya berpotensi meningkatkan ekspor pangan nasional, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem ekonomi haji global. Selama ini, kebutuhan konsumsi jutaan jemaah haji dan umrah di Arab Saudi sebagian besar masih dipenuhi oleh negara pemasok lain, padahal Indonesia memiliki kapasitas produksi yang memadai untuk berbagai komoditas pangan.
Dukungan IARSI disampaikan menyusul pernyataan Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Yusuf, yang mendorong pemanfaatan komoditas nasional seperti beras, kerupuk, santan, ikan patin, serta berbagai bumbu masakan Nusantara untuk memenuhi kebutuhan katering jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.
Menurut IARSI, pasar konsumsi haji dan umrah merupakan pasar yang relatif stabil, terukur, dan berkelanjutan. Dengan jumlah jemaah Indonesia yang termasuk terbesar di dunia setiap tahunnya, peluang integrasi produk pangan nasional ke dalam rantai pasok katering haji memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan.
Namun demikian, keberhasilan program tersebut memerlukan pendekatan rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Tidak hanya bergantung pada kemampuan produksi nasional, tetapi juga pada kesiapan sistem logistik internasional, pemenuhan standar keamanan pangan Arab Saudi, sertifikasi halal yang diakui secara internasional, serta kemampuan menjaga kualitas produk selama proses distribusi.
IARSI mengidentifikasi lima faktor utama yang menjadi kunci keberhasilan program ini, yaitu:
Konsolidasi rantai pasok nasional yang melibatkan petani, nelayan, UMKM pangan, industri pengolahan, dan eksportir.
Penguatan infrastruktur logistik ekspor, termasuk fasilitas pelabuhan, pusat konsolidasi, dan sistem rantai dingin (cold chain).
Harmonisasi standar mutu dan keamanan pangan sesuai regulasi Arab Saudi.
Pengembangan kontrak jangka panjang dengan perusahaan penyedia katering haji untuk menciptakan kepastian permintaan.
Penerapan sistem digital supply chain guna meningkatkan efisiensi, transparansi, dan ketertelusuran (traceability) produk.
IARSI juga menilai bahwa upaya pemerintah yang sebelumnya telah mengirimkan sekitar 2.280 ton beras Indonesia ke Arab Saudi merupakan langkah awal yang positif dalam memperkuat posisi tawar Indonesia pada rantai pasok haji global. Program tersebut dapat menjadi model pengembangan ekspor pangan nasional berbasis kebutuhan pasar yang jelas dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, IARSI mendorong agar penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya dipandang sebagai layanan keagamaan semata, tetapi juga sebagai instrumen penguatan ekonomi nasional melalui pengembangan rantai pasok pangan, logistik, dan industri pendukung lainnya.
Apabila dikelola secara profesional dan berkelanjutan, integrasi komoditas pangan Indonesia ke dalam rantai pasok katering haji Arab Saudi diyakini mampu menciptakan dampak ekonomi yang luas, mulai dari peningkatan ekspor, penguatan industri pangan nasional, hingga peningkatan kesejahteraan petani, nelayan, pelaku UMKM, dan sektor logistik.
Sebagai organisasi profesi yang berfokus pada pengembangan keunggulan rantai pasok nasional, IARSI menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan dalam merancang model rantai pasok pangan haji yang efisien, tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
post : iarsi.org
