ilustrasi logistik


Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menegaskan bahwa penurunan biaya logistik nasional harus menjadi agenda strategis yang dijalankan secara konsisten jika Indonesia ingin meningkatkan daya saing dan naik kelas menjadi kekuatan ekonomi yang lebih maju di kawasan maupun dunia.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul komitmen pemerintah yang menargetkan biaya logistik nasional turun hingga 12,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2029. Pemerintah menilai efisiensi logistik merupakan salah satu instrumen utama untuk memperkuat investasi, memperlancar distribusi barang, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D.,CMI.,CITS., mengatakan bahwa biaya logistik bukan sekadar persoalan transportasi barang, tetapi merupakan faktor yang menentukan tingkat efisiensi ekonomi nasional secara keseluruhan.

“Negara-negara dengan daya saing tinggi umumnya memiliki sistem logistik yang efisien, terintegrasi, dan berbasis teknologi. Jika Indonesia ingin naik kelas ekonomi, maka biaya logistik harus terus ditekan melalui reformasi menyeluruh dari hulu hingga hilir,” ujar Beniadi Setiawan.

Menurutnya, biaya logistik yang tinggi akan meningkatkan harga barang, mengurangi daya saing industri, serta membatasi kemampuan pelaku usaha untuk memperluas pasar. Sebaliknya, efisiensi logistik akan memberikan ruang bagi industri untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar.

Beniadi mengapresiasi langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menjadikan efisiensi logistik sebagai bagian penting dalam strategi pembangunan nasional. Ia menilai target penurunan biaya logistik akan memberikan dampak langsung terhadap iklim investasi dan daya saing ekspor Indonesia.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat konektivitas antardaerah, meningkatkan kualitas infrastruktur, serta mengintegrasikan sistem transportasi nasional guna menciptakan distribusi barang yang lebih efisien. 

IARSI menilai terdapat sedikitnya lima syarat utama agar Indonesia mampu mencapai target tersebut.

Pertama, percepatan digitalisasi rantai pasok nasional melalui integrasi data logistik, pelabuhan, kepabeanan, pergudangan, dan transportasi sehingga proses distribusi menjadi lebih cepat dan transparan. 

Kedua, penguatan konektivitas antarmoda. Menurut IARSI, pemanfaatan pelabuhan, kereta barang, jalan tol logistik, dan angkutan laut harus terhubung secara lebih efektif untuk mengurangi biaya distribusi antarwilayah. 

Ketiga, pengembangan kawasan logistik dan pusat distribusi nasional, terutama di luar Pulau Jawa. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi disparitas harga dan meningkatkan pemerataan ekonomi.

Keempat, penyederhanaan regulasi serta penguatan koordinasi antarinstansi. IARSI menilai masih terdapat sejumlah hambatan administratif yang berpotensi memperlambat arus barang dan meningkatkan biaya operasional. 

Kelima, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang logistik dan rantai pasok agar transformasi digital dan modernisasi sistem distribusi dapat berjalan lebih efektif.

Menurut Beniadi, keberhasilan menurunkan biaya logistik akan memberikan dampak luas terhadap berbagai sektor strategis, mulai dari manufaktur, perdagangan, hilirisasi industri, ketahanan pangan, hingga pengembangan kawasan industri baru.

“Ketika biaya logistik turun, harga barang menjadi lebih kompetitif, investasi meningkat, industri tumbuh lebih cepat, dan masyarakat memperoleh manfaat melalui harga yang lebih terjangkau. Efek bergandanya sangat besar bagi perekonomian nasional,” katanya. 

Ekonom dan pelaku usaha logistik juga menilai bahwa transformasi sistem logistik menjadi salah satu fondasi penting menuju visi Indonesia Emas 2045. Pemerintah bahkan telah menempatkan sektor logistik sebagai pilar strategis untuk memperkuat konektivitas nasional dan meningkatkan daya saing ekonomi di tengah persaingan global yang semakin ketat. 

IARSI berharap kolaborasi antara pemerintah, BUMN, pelaku industri, operator logistik, akademisi, dan asosiasi profesi dapat semakin diperkuat sehingga target efisiensi logistik tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi benar-benar menjadi penggerak transformasi ekonomi Indonesia.

“Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat manufaktur dan distribusi regional. Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila sistem rantai pasok nasional mampu bekerja secara efisien, tangguh, dan terintegrasi. Penurunan biaya logistik adalah salah satu kunci utamanya,” tutup Beniadi Setiawan. 


post: iarsi.org