Ilustrasi industri manufaktur


Bekasi – Industri manufaktur Indonesia kembali menunjukkan daya tahannya di tengah ketidakpastian ekonomi global. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Mei 2026 kembali masuk ke zona ekspansi dengan mencapai level 50,0 setelah sebelumnya berada di level 49,1 pada April 2026.

Perbaikan kinerja manufaktur tersebut didorong oleh langkah antisipatif pelaku industri yang meningkatkan cadangan bahan baku guna menjaga kelangsungan produksi di tengah berbagai risiko global, mulai dari gangguan rantai pasok internasional, fluktuasi harga komoditas, hingga ketidakpastian geopolitik.

Berdasarkan laporan Akurat.co yang mengutip data S&P Global dan Kementerian Perindustrian, sejumlah perusahaan manufaktur memperbesar persediaan bahan baku sebagai strategi untuk memastikan kegiatan produksi tetap berjalan dalam beberapa bulan ke depan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terganggunya pasokan impor maupun kenaikan harga bahan baku yang dapat memengaruhi biaya produksi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai peningkatan PMI manufaktur menunjukkan kemampuan industri nasional dalam beradaptasi terhadap berbagai tantangan global. Menurutnya, penguatan stok bahan baku merupakan bagian dari strategi industri untuk menjaga keberlangsungan produksi sekaligus memenuhi kebutuhan pasar secara tepat waktu.

Saat ini sekitar 70 persen impor Indonesia masih didominasi oleh bahan baku dan bahan penolong industri. Kondisi tersebut membuat sektor manufaktur nasional cukup sensitif terhadap perubahan harga global, gangguan logistik internasional, maupun hambatan perdagangan yang dapat memengaruhi kelancaran pasokan.

Di tengah kondisi tersebut, penguatan persediaan bahan baku dinilai sebagai langkah mitigasi risiko yang semakin penting. Industri tidak hanya berupaya menjaga stabilitas produksi, tetapi juga meningkatkan ketahanan operasional agar tetap mampu memenuhi permintaan pasar meskipun terjadi gangguan pada rantai pasok global.

Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai terkait perkembangan PMI manufaktur terbaru, bahwa penguatan stok bahan baku merupakan bagian dari strategi peningkatan resiliensi rantai pasok nasional.

IARSI secara konsisten menyoroti pentingnya ketahanan rantai pasok dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk konflik geopolitik, kenaikan harga bahan baku, perubahan pola perdagangan internasional, hingga gangguan distribusi yang dapat berdampak langsung pada aktivitas industri. Dalam perspektif tersebut, peningkatan persediaan bahan baku dapat dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga kontinuitas operasional dan mengurangi risiko gangguan produksi.

Namun demikian, kembalinya PMI manufaktur ke zona ekspansi belum sepenuhnya menghilangkan berbagai tantangan yang masih membayangi sektor industri nasional. Tekanan biaya bahan baku, ketergantungan terhadap pasokan impor, volatilitas nilai tukar, serta tingginya biaya logistik masih menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian.

Dari sudut pandang pengelolaan rantai pasok, momentum pemulihan industri perlu diikuti dengan upaya memperkuat ekosistem pasokan domestik. Pengembangan industri hulu, peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri, diversifikasi sumber pasokan, serta penguatan kolaborasi antara pelaku industri dan pemasok lokal menjadi langkah strategis untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak eksternal.

Selain itu, penguatan infrastruktur logistik nasional juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri Indonesia. Sinkronisasi antarmoda transportasi, peningkatan efisiensi distribusi, digitalisasi pelabuhan, serta penerapan teknologi rantai pasok berbasis data dinilai mampu mempercepat arus barang sekaligus menekan biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan bagi dunia usaha.

Para pengamat rantai pasok menilai bahwa peningkatan stok bahan baku merupakan langkah yang tepat dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, daya tahan industri akan sangat ditentukan oleh kemampuan membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berbasis pada sumber daya domestik yang kuat.

Sejalan dengan berbagai pandangan yang selama ini disampaikan IARSI, kemampuan industri nasional dalam menjaga ketersediaan bahan baku di tengah ketidakpastian global menunjukkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya manajemen risiko rantai pasok. Ketahanan tersebut perlu terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, penyedia jasa logistik, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan.

Dengan demikian, pemulihan PMI manufaktur tidak hanya menjadi indikator membaiknya aktivitas produksi, tetapi juga mencerminkan semakin pentingnya strategi rantai pasok yang tangguh sebagai fondasi pertumbuhan industri Indonesia yang berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan.


post : iarsi.org