Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) merupakan peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus membangun ekosistem industri mineral dan logistik yang berkelanjutan.
Penilaian tersebut sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan transisi energi dan kemandirian energi nasional sebagai salah satu agenda prioritas pembangunan. Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia harus mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam dan energi terbarukan untuk mencapai swasembada energi sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Menurut IARSI, target ambisius tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur energi terbarukan, tetapi juga membutuhkan kesiapan rantai pasok nasional yang mampu menjamin ketersediaan bahan baku, kapasitas manufaktur, serta distribusi yang efisien dan rendah emisi.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., mengatakan, pengembangan PLTS skala besar akan meningkatkan kebutuhan berbagai mineral strategis seperti aluminium, tembaga, silikon, dan lithium yang menjadi komponen utama panel surya maupun sistem penyimpanan energi.
"Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam rantai pasok energi terbarukan global. Namun peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan secara optimal apabila pembangunan industri mineral diiringi dengan penguatan ekosistem logistik yang efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan," ujarnya.
Berdasarkan kajian Institute for Essential Services Reform (IESR), pembangunan PLTS 100 GW diperkirakan membutuhkan lebih dari 2 juta ton aluminium dan hampir 500 ribu ton tembaga, selain kebutuhan silikon dan lithium dalam jumlah besar. Kondisi ini menunjukkan pentingnya kesiapan rantai pasok nasional dalam mendukung agenda transisi energi Indonesia.
IARSI menilai pengembangan industri pengolahan mineral dalam negeri harus menjadi prioritas agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah melalui industri manufaktur komponen energi surya.
Selain aspek industri, IARSI juga menyoroti pentingnya penerapan prinsip dekarbonisasi dalam seluruh aktivitas rantai pasok. Langkah tersebut dinilai semakin penting mengingat pasar global mulai menerapkan standar keberlanjutan dan jejak karbon sebagai salah satu syarat utama dalam perdagangan internasional.
"Ke depan, daya saing suatu produk tidak hanya ditentukan oleh harga dan kualitas, tetapi juga oleh seberapa rendah emisi yang dihasilkan sepanjang rantai pasoknya. Karena itu, pembangunan PLTS harus dibarengi dengan transformasi sistem logistik dan industri menuju operasi yang lebih hijau," lanjutnya.
IARSI memandang pembangunan ekosistem mineral dan logistik berkelanjutan akan memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok energi bersih global.
Lebih lanjut, organisasi tersebut mendorong pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur logistik, memperkuat konektivitas kawasan industri, serta mendorong investasi pada sektor pemurnian dan manufaktur mineral strategis yang mendukung industri energi terbarukan.
Menurut IARSI, keberhasilan program PLTS 100 GW tidak hanya akan menentukan masa depan transisi energi nasional, tetapi juga menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk membangun rantai pasok industri hijau yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.
post; iarsi.org
