Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai dimulainya layanan ekspor internasional melalui Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, merupakan tonggak baru dalam penguatan jaringan logistik nasional. Beroperasinya pelabuhan berstandar internasional tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk memperluas akses ekspor, memperpendek rantai distribusi, sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Meski demikian, IARSI mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah pelabuhan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas dermaga dan peralatan bongkar muat, tetapi juga oleh kualitas konektivitas kawasan hinterland yang menghubungkan pelabuhan dengan sentra produksi, kawasan industri, pergudangan, serta jaringan transportasi darat dan multimoda.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D.,CMI.,CMT., menegaskan bahwa pembangunan pelabuhan modern harus menjadi bagian dari strategi besar pengembangan rantai pasok nasional.
"Terminal Kijing telah membuka peluang baru bagi ekspor Indonesia, khususnya dari Kalimantan Barat. Tantangan berikutnya adalah memastikan konektivitas hinterland berkembang seiring dengan kapasitas pelabuhan sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara maksimal oleh pelaku usaha dan masyarakat."
IARSI menilai selama ini sebagian komoditas unggulan dari Kalimantan masih harus melalui pelabuhan transit di luar daerah sebelum memasuki pasar internasional. Kondisi tersebut menyebabkan biaya logistik lebih tinggi dan waktu distribusi menjadi lebih panjang. Kehadiran Terminal Kijing diharapkan mampu memangkas rantai distribusi sekaligus meningkatkan efisiensi ekspor.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan melepas ekspor perdana peti kemas internasional melalui Terminal Kijing, Kabupaten Mempawah, Senin (29/6/2026)
Sejalan dengan pandangan tersebut, Kementerian Perhubungan dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa pembangunan pelabuhan nasional merupakan bagian dari upaya memperkuat konektivitas antardaerah dan menurunkan biaya logistik nasional. Pemerintah juga terus mendorong integrasi antara pelabuhan, jaringan jalan, kawasan industri, serta moda transportasi lain agar tercipta sistem logistik yang lebih efisien dan berdaya saing.
Sementara itu, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menyampaikan bahwa Terminal Kijing dikembangkan sebagai pelabuhan modern yang mampu melayani kapal berkapasitas besar serta mendukung aktivitas ekspor-impor secara langsung dari Kalimantan Barat. Optimalisasi terminal tersebut diharapkan dapat meningkatkan throughput peti kemas, mempercepat arus barang, serta mengurangi ketergantungan pada pelabuhan transit di wilayah lain.
Dari sisi perdagangan, Kementerian Perdagangan secara konsisten menekankan pentingnya efisiensi logistik sebagai salah satu faktor penentu daya saing ekspor Indonesia. Menurut kementerian, biaya logistik yang lebih rendah akan meningkatkan daya saing produk nasional di pasar internasional, memperluas akses pasar bagi pelaku usaha, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai kajian Bank Dunia yang menyebutkan bahwa kualitas infrastruktur transportasi, efisiensi layanan pelabuhan, digitalisasi logistik, dan kelancaran konektivitas hinterland merupakan komponen utama dalam meningkatkan kinerja logistik suatu negara. Bank Dunia juga menilai bahwa investasi infrastruktur akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar apabila didukung tata kelola logistik yang terintegrasi dan proses perdagangan yang sederhana.
Menurut IARSI, momentum beroperasinya Terminal Kijing harus dimanfaatkan pemerintah untuk mempercepat pembangunan akses jalan menuju kawasan industri dan sentra produksi, memperluas jaringan pergudangan modern, mengembangkan dry port, serta memperkuat konektivitas antarmoda. Langkah tersebut diyakini akan menciptakan ekosistem logistik yang lebih efisien dan mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi di luar Pulau Jawa.
Selain pembangunan fisik, IARSI juga mendorong percepatan implementasi National Logistics Ecosystem (NLE) agar seluruh proses logistik, mulai dari perizinan, kepabeanan, kepelabuhanan, pergudangan, hingga distribusi barang, dapat berlangsung secara digital dan terintegrasi. Digitalisasi diyakini mampu meningkatkan transparansi, memangkas waktu layanan, serta menurunkan biaya operasional bagi pelaku usaha.
IARSI menambahkan bahwa keberhasilan Terminal Kijing akan sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Pelindo, pelaku logistik, eksportir, asosiasi industri, dan investor. Sinergi tersebut diperlukan agar pelabuhan tidak hanya berfungsi sebagai titik bongkar muat, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menggerakkan industri, perdagangan, dan investasi di kawasan barat Kalimantan.
"Ekspor internasional melalui Terminal Kijing merupakan awal dari transformasi logistik nasional yang lebih merata. Apabila pembangunan konektivitas hinterland, integrasi antarmoda, dan digitalisasi rantai pasok terus dipercepat, Indonesia memiliki peluang besar memperkuat posisinya sebagai pusat logistik dan perdagangan di kawasan ASEAN," tutup Ketua Umum IARSI.
Post: iarsi.org

