Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax, Berdasarkan keterangan resmi Pertamina Patra Niaga, harga Pertamax (RON 92) kini menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter, memang tidak secara langsung memicu lonjakan biaya angkutan barang nasional sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. 

"Harusnya (dampak inflasi) limited, karena kan bukan buat angkutan umum kan, angkutan barang enggak pakai Pertamax," 

Namun, dari perspektif rantai pasok, dampaknya tidak dapat dilihat hanya dari penggunaan BBM oleh armada logistik semata.

Menurut IARSI, sebagian besar truk logistik dan kendaraan angkutan barang memang menggunakan bahan bakar diesel atau solar, sehingga pengaruh langsung terhadap tarif distribusi barang relatif terbatas dalam jangka pendek. Akan tetapi, rantai pasok modern merupakan ekosistem yang saling terhubung, sehingga kenaikan biaya energi pada satu titik dapat menciptakan efek berantai terhadap aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D.,  menilai bahwa kenaikan harga Pertamax berpotensi mengurangi daya beli kelompok masyarakat menengah yang menjadi salah satu penggerak utama konsumsi domestik. Ketika pengeluaran rumah tangga untuk transportasi meningkat, maka alokasi belanja terhadap barang konsumsi lainnya cenderung menurun. Kondisi tersebut dapat berdampak pada penurunan permintaan pasar, perlambatan perputaran stok, serta meningkatnya tekanan terhadap produsen dan distributor dalam menjaga volume penjualan.

Dari sisi operasional rantai pasok, IARSI melihat terdapat beberapa risiko tidak langsung yang perlu diantisipasi. Pertama, meningkatnya biaya mobilitas tenaga kerja pada sektor manufaktur, distribusi, pergudangan, dan jasa logistik. Kedua, bertambahnya biaya operasional kendaraan operasional perusahaan yang menggunakan BBM non-subsidi. Ketiga, potensi kenaikan tarif jasa pendukung seperti kurir, distribusi last-mile, dan transportasi bisnis yang banyak menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin.

IARSI juga mengingatkan bahwa persepsi inflasi sering kali lebih berpengaruh dibandingkan inflasi aktual. Ketika masyarakat melihat harga BBM naik secara signifikan, pelaku usaha cenderung melakukan penyesuaian harga sebagai langkah antisipatif. Fenomena ini dapat memunculkan inflasi ekspektasi yang pada akhirnya memengaruhi harga barang dan jasa di berbagai sektor meskipun biaya logistik utama belum mengalami kenaikan yang berarti.

Selain itu, kenaikan harga energi terjadi pada saat dunia masih menghadapi ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar energi global. Dalam kondisi tersebut, perusahaan perlu memperkuat strategi efisiensi rantai pasok melalui optimalisasi rute distribusi, peningkatan utilisasi armada, digitalisasi pemantauan logistik, serta penguatan kolaborasi dengan pemasok dan distributor untuk menekan biaya operasional.

IARSI memandang bahwa dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi nasional kemungkinan memang lebih terbatas dibandingkan apabila yang mengalami kenaikan adalah solar atau Pertalite. Namun demikian, pemerintah dan pelaku usaha tetap perlu mewaspadai efek lanjutan terhadap konsumsi rumah tangga, biaya operasional bisnis, serta tingkat kepercayaan pasar yang dapat memengaruhi kinerja rantai pasok nasional dalam beberapa bulan ke depan.

IARSI berkesimpulan Kenaikan harga Pertamax tidak serta-merta menyebabkan lonjakan biaya distribusi barang nasional karena mayoritas angkutan logistik tidak menggunakan BBM tersebut. Namun, dampak tidak langsung berupa penurunan daya beli, kenaikan biaya operasional perusahaan, tekanan inflasi ekspektasi, dan perlambatan konsumsi perlu menjadi perhatian serius. Oleh karena itu, penguatan efisiensi rantai pasok dan koordinasi kebijakan fiskal, energi, serta logistik menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya biaya energi global.


post: iarsi.org