ilustrasi by. iarsi.org - AI


BEKASI – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menyatakan dukungannya terhadap target pemerintah untuk menurunkan biaya logistik nasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Langkah tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam memperkuat efisiensi rantai pasok, mempercepat distribusi barang, serta mendorong pertumbuhan industri dan perdagangan nasional.

Dukungan tersebut disampaikan menyusul pernyataan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono yang menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menekan biaya logistik nasional melalui penguatan infrastruktur, integrasi sistem transportasi, dan peningkatan konektivitas antarwilayah.

Menurut IARSI, biaya logistik merupakan salah satu komponen utama yang menentukan tingkat daya saing suatu negara. Ketika biaya distribusi dapat ditekan, maka industri akan memperoleh efisiensi yang lebih besar, harga produk menjadi lebih kompetitif, dan akses pasar bagi pelaku usaha semakin luas.

"IARSI memandang target penurunan biaya logistik nasional sebagai langkah strategis yang akan memberikan dampak positif bagi seluruh ekosistem ekonomi. Efisiensi logistik bukan hanya mengurangi biaya distribusi, tetapi juga meningkatkan produktivitas industri dan memperkuat ketahanan rantai pasok nasional," ujar Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D.

IARSI menilai tantangan logistik Indonesia saat ini tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur fisik, tetapi juga menyangkut integrasi layanan, koordinasi antarinstansi, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan rantai pasok. Oleh karena itu, upaya menurunkan biaya logistik harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Menurut organisasi profesi yang fokus pada pengembangan rantai pasok tersebut, digitalisasi proses logistik dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan efisiensi. Integrasi data pengiriman, sistem pelacakan barang secara real time, serta penyederhanaan prosedur administrasi diyakini mampu memangkas waktu dan biaya operasional yang selama ini menjadi beban bagi pelaku usaha.

Selain itu, IARSI menyoroti pentingnya penguatan konektivitas antarwilayah, terutama untuk kawasan timur Indonesia yang masih menghadapi tantangan biaya distribusi relatif lebih tinggi dibanding wilayah lainnya. Peningkatan kualitas pelabuhan, jaringan transportasi multimoda, kawasan logistik, serta optimalisasi jalur distribusi nasional dinilai dapat membantu menekan disparitas harga barang dan meningkatkan pemerataan ekonomi.

"Inefisiensi logistik pada akhirnya akan berdampak pada harga barang yang dibayar masyarakat. Karena itu, setiap upaya yang mampu mempercepat arus barang dan menurunkan biaya distribusi akan memberikan manfaat langsung bagi dunia usaha maupun konsumen," ungkap Benuadi Setiawan.

Lebih jauh, Beniadi Setiawan menilai penurunan biaya logistik juga akan mendukung berbagai agenda strategis pemerintah, termasuk hilirisasi industri, penguatan sektor manufaktur, ketahanan pangan, serta peningkatan investasi. Dengan sistem rantai pasok yang lebih efisien dan terintegrasi, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.

IARSI mendorong adanya indikator kinerja yang terukur dalam implementasi kebijakan penurunan biaya logistik nasional. Evaluasi berkala terhadap waktu pengiriman, biaya distribusi, utilisasi infrastruktur, tingkat digitalisasi layanan, hingga kelancaran arus barang dinilai penting untuk memastikan target yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif.

IARSI optimistis bahwa kolaborasi antara pemerintah, BUMN, pelaku industri, operator logistik, akademisi, dan komunitas rantai pasok akan menjadi faktor kunci dalam mewujudkan sistem logistik nasional yang lebih efisien, tangguh, dan kompetitif.

"Dengan biaya logistik yang semakin rendah dan rantai pasok yang semakin kuat, Indonesia akan memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu pusat ekonomi dan manufaktur penting di kawasan Asia Tenggara," tutup Beniadi Setiawan.


Post : iarsi.org