ilustrasi by: iarsi.org - AI


Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai aspirasi berbagai elemen masyarakat yang menyoroti kondisi ekonomi dan daya beli perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Menurut IARSI, kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh stabilitas harga barang dan jasa yang pada akhirnya berkaitan erat dengan kinerja rantai pasok nasional.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menegaskan bahwa daya beli masyarakat merupakan salah satu indikator penting kesehatan ekonomi nasional. Ketika harga kebutuhan pokok, energi, dan biaya transportasi meningkat secara bersamaan, tekanan terhadap rumah tangga akan semakin besar, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah dan menengah.

"Daya beli masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, tetapi juga oleh efisiensi distribusi barang dari produsen hingga ke tangan konsumen. Oleh karena itu, penguatan rantai pasok nasional harus menjadi bagian dari strategi menjaga kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Menurut IARSI, tantangan yang dihadapi saat ini tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dari ketidakpastian global yang memengaruhi harga energi, bahan baku industri, dan biaya transportasi internasional. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi yang pada akhirnya berdampak pada harga barang di tingkat konsumen.

IARSI menjelaskan bahwa setiap kenaikan biaya logistik akan memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi. Mulai dari distribusi pangan, kebutuhan pokok, produk manufaktur, hingga layanan transportasi. Karena itu, upaya menjaga daya beli masyarakat tidak cukup hanya melalui kebijakan fiskal atau subsidi, tetapi juga membutuhkan pembenahan menyeluruh terhadap sistem logistik dan rantai pasok nasional.

Dalam kajiannya, IARSI mendorong pemerintah untuk mempercepat integrasi sistem logistik nasional, meningkatkan efisiensi pelabuhan dan pusat distribusi, serta memperkuat konektivitas antarwilayah. Langkah tersebut dinilai dapat membantu menekan biaya distribusi sehingga harga barang lebih stabil dan terjangkau bagi masyarakat.

Selain itu, IARSI juga menekankan pentingnya menjaga kelancaran distribusi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), mengingat sektor transportasi merupakan tulang punggung pergerakan barang di Indonesia. Gangguan distribusi energi berpotensi memicu kenaikan biaya logistik yang berdampak langsung pada harga kebutuhan masyarakat.

"Dalam perspektif rantai pasok, stabilitas harga pangan dan energi merupakan faktor utama yang menentukan daya beli. Ketika distribusi berjalan lancar dan biaya logistik dapat ditekan, maka tekanan inflasi terhadap masyarakat juga dapat dikurangi," jelasnya.

IARSI juga mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur logistik, digitalisasi sistem distribusi, dan penguatan cadangan komoditas strategis harus terus menjadi prioritas dalam kebijakan nasional. Upaya tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan daya saing ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan barang di tengah berbagai risiko global.

Menurut IARSI, aspirasi masyarakat terkait daya beli seharusnya menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat reformasi sektor logistik dan rantai pasok. Dengan sistem distribusi yang lebih efisien, Indonesia akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas harga, mengendalikan inflasi, serta melindungi kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.

"Pada akhirnya, keberhasilan menjaga daya beli masyarakat sangat bergantung pada kemampuan negara menghadirkan sistem rantai pasok yang efisien, tangguh, dan berkelanjutan. Karena itu, penguatan rantai pasok nasional harus dipandang sebagai investasi strategis untuk masa depan ekonomi Indonesia," tutup IARSI.


Post: iarsi.org