Pertemuan DPP Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDO) bersama 15 asosiasi logistik nasional sebagai bentuk keprihatinan atas semakin tingginya biaya logistik di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.


Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menyoroti meningkatnya keresahan pelaku usaha logistik akibat lonjakan berbagai komponen biaya distribusi di tengah tekanan ekonomi yang masih berlangsung. Keresahan tersebut mengemuka setelah 15 asosiasi logistik nasional berkumpul untuk membahas berbagai persoalan yang dinilai semakin membebani dunia usaha. 

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menilai kondisi ini perlu mendapat perhatian serius pemerintah karena sektor logistik merupakan tulang punggung rantai pasok nasional. Kenaikan biaya logistik tidak hanya berdampak pada perusahaan transportasi dan pergudangan, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya produksi industri, harga barang, serta menurunkan daya saing ekonomi Indonesia.

"IARSI memahami dan mencermati keresahan yang disampaikan para pelaku usaha logistik. Dalam perspektif rantai pasok, setiap tambahan biaya distribusi pada akhirnya akan memengaruhi efisiensi arus barang dari produsen hingga konsumen. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini dapat memperbesar tekanan inflasi dan mengurangi daya saing produk nasional," ujar Ketua Umum IARSI.

Sebelumnya, sejumlah asosiasi logistik menyampaikan keberatan terhadap pemberlakuan tambahan biaya Jasa Pemeriksaan Keamanan Kargo dan Pos (Jasper/Jaster) sebesar Rp700 per kilogram serta Cargo Handling Charge (SGHA) sebesar Rp340 per kilogram pada layanan kargo udara. Pelaku usaha menilai kebijakan tersebut berpotensi menambah beban industri yang saat ini juga menghadapi tekanan akibat penguatan dolar AS dan berbagai persoalan distribusi energi.

Menurut IARSI, tantangan yang dihadapi sektor logistik saat ini tidak hanya berasal dari faktor global seperti pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi internasional, tetapi juga dari berbagai biaya domestik yang muncul di sepanjang rantai pasok. Efisiensi logistik menjadi semakin penting mengingat biaya logistik Indonesia masih berada di atas banyak negara pesaing di kawasan ASEAN.

IARSI mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan yang berpotensi meningkatkan biaya distribusi, sekaligus mempercepat integrasi infrastruktur, digitalisasi rantai pasok, dan harmonisasi regulasi antarinstansi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kelancaran arus barang, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperkuat ketahanan rantai pasok nasional.

Lebih lanjut, IARSI mendukung inisiatif asosiasi-asosiasi logistik untuk memperkuat koordinasi dan menyusun rekomendasi bersama kepada pemerintah. Kolaborasi antara pelaku usaha, asosiasi industri, dan regulator dinilai menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem logistik yang lebih efisien, kompetitif, dan berkelanjutan.

"IARSI berharap seluruh pemangku kepentingan dapat duduk bersama mencari solusi yang berimbang. Tujuannya bukan hanya mengurangi beban pelaku usaha, tetapi juga memastikan rantai pasok nasional tetap tangguh, efisien, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia," 


post: iarsi.org