Ilustrasi by. iarsi.org - AI


Bekasi – Pertumbuhan industri logistik nasional yang terus menunjukkan tren positif menjadi indikator meningkatnya aktivitas perdagangan, distribusi, dan integrasi rantai pasok di Indonesia. Namun di balik peluang tersebut, pelaku usaha diingatkan untuk tidak mengabaikan berbagai risiko baru yang muncul seiring semakin kompleksnya ekosistem logistik modern.

Menanggapi pemberitaan mengenai pesatnya pertumbuhan industri logistik dan meningkatnya kebutuhan perlindungan risiko, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai bahwa tantangan yang dihadapi sektor logistik saat ini tidak lagi terbatas pada risiko kehilangan atau kerusakan barang selama proses pengiriman.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menyampaikan bahwa transformasi rantai pasok global telah menciptakan berbagai risiko baru yang membutuhkan pendekatan manajemen yang lebih komprehensif dan terintegrasi.

"Pertumbuhan industri logistik merupakan kabar baik bagi perekonomian nasional. Namun, semakin tinggi aktivitas logistik, semakin besar pula eksposur terhadap berbagai risiko operasional, finansial, teknologi, maupun gangguan rantai pasok global. Karena itu, pelaku usaha perlu memperkuat strategi mitigasi risiko secara menyeluruh," ujarnya.

Menurut Beniadi Setiawan, perkembangan teknologi, perubahan iklim, ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga meningkatnya ancaman serangan siber telah menjadi faktor yang dapat memengaruhi kelancaran operasional logistik dan rantai pasok.

Selain itu, meningkatnya ketergantungan pada sistem digital juga menghadirkan tantangan baru yang memerlukan kesiapan sumber daya manusia serta investasi pada teknologi yang mampu meningkatkan visibilitas dan pengendalian rantai pasok secara real-time.

Beniadi Setiawan menilai bahwa digitalisasi melalui pemanfaatan Warehouse Management System (WMS), Transportation Management System (TMS), Internet of Things (IoT), serta teknologi analitik berbasis kecerdasan buatan menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan logistik untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi potensi gangguan operasional.

IARSI mengapresiasi meningkatnya kesadaran pelaku industri terhadap pentingnya perlindungan asuransi dalam kegiatan logistik. Namun demikian, organisasi profesi tersebut menegaskan bahwa asuransi sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi manajemen risiko yang lebih luas, bukan sebagai satu-satunya solusi.

"Perlindungan asuransi memang penting, tetapi yang lebih utama adalah kemampuan perusahaan dalam mengidentifikasi, memitigasi, dan mengelola risiko sejak awal. Pendekatan supply chain risk management harus menjadi budaya dalam organisasi," tegasnya.

IARSI juga menyoroti pentingnya penguatan kompetensi sumber daya manusia di bidang logistik dan rantai pasok. Menurut organisasi tersebut, kebutuhan tenaga profesional yang memahami manajemen risiko, analitik data, keberlanjutan, dan transformasi digital akan terus meningkat seiring pertumbuhan industri.

Untuk itu, IARSI mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, perguruan tinggi, dan asosiasi profesi guna memperkuat kapasitas SDM serta meningkatkan daya saing sektor logistik nasional.

IARSI berharap pertumbuhan industri logistik tidak hanya diukur dari peningkatan volume distribusi dan transaksi, tetapi juga dari kemampuan pelaku usaha dalam membangun rantai pasok yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.

"Ketahanan rantai pasok akan menjadi faktor pembeda utama dalam persaingan bisnis di masa depan. Perusahaan yang mampu mengelola risiko secara efektif akan memiliki keunggulan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai ketidakpastian global," tutup IARSI.


Post : iarsi.org