Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang di Kabupaten Batang,


Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menyatakan dukungannya terhadap langkah pemerintah mendorong holding kawasan industri menjadi simpul logistik nasional. Kebijakan tersebut dinilai strategis dalam memperkuat integrasi rantai pasok nasional, meningkatkan efisiensi distribusi barang, serta memperkuat daya saing industri Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Sebelumnya, pemerintah mendorong pembentukan holding kawasan industri nasional agar tidak hanya berfungsi sebagai pusat manufaktur dan investasi, tetapi juga berkembang menjadi pusat logistik yang terintegrasi dengan jaringan distribusi nasional. Langkah ini diharapkan mampu menurunkan biaya logistik, mempercepat arus barang, dan meningkatkan efektivitas konektivitas antarwilayah.

Menanggapi hal tersebut, IARSI menilai kawasan industri modern harus bertransformasi dari sekadar lokasi produksi menjadi pusat orkestrasi rantai pasok nasional. Kawasan industri perlu terhubung dengan pelabuhan, dry port, jaringan kereta api, jalan tol, pusat distribusi, serta sistem informasi logistik yang terintegrasi.

“Pengembangan holding kawasan industri merupakan langkah penting dalam membangun ekosistem logistik yang lebih efisien dan kompetitif. Kawasan industri harus menjadi bagian dari jaringan rantai pasok nasional yang mampu menghubungkan aktivitas produksi, distribusi, dan perdagangan secara terpadu,” ujar Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., dalam keterangannya.

Menurut Beniadi Setiawan, pembentukan holding kawasan industri berpotensi menciptakan standardisasi layanan logistik, meningkatkan pemanfaatan aset secara optimal, serta mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung yang dibutuhkan dunia usaha. Namun, keberhasilan implementasinya memerlukan tata kelola yang kuat, koordinasi lintas sektor, serta perencanaan berbasis data yang akurat.

Beniadi Setiawan juga menekankan pentingnya lima aspek strategis dalam pengembangan kawasan industri sebagai simpul logistik nasional. Pertama, integrasi digital rantai pasok guna meningkatkan visibilitas dan efisiensi pergerakan barang secara end-to-end. Kedua, penguatan konektivitas multimoda melalui integrasi pelabuhan, dry port, kereta barang, dan jaringan jalan nasional.

Ketiga, pengembangan ekosistem industri pendukung yang mampu memperkuat keterlibatan pemasok lokal dan penyedia jasa logistik. Keempat, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang supply chain management, logistik digital, dan manajemen risiko rantai pasok. Kelima, penerapan prinsip keberlanjutan melalui konsep green logistics dan penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.

Beniadi Setiawan meyakini bahwa integrasi kawasan industri dengan sistem logistik nasional akan menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia ke depan. Dengan dukungan infrastruktur yang terhubung, sistem logistik yang efisien, serta tata kelola yang terintegrasi, Indonesia berpeluang memperkuat posisinya sebagai pusat manufaktur dan logistik regional di Asia Tenggara.

Lebih lanjut, organisasi profesi tersebut menilai bahwa holding kawasan industri dapat menjadi instrumen strategis untuk mempercepat transformasi rantai pasok nasional sekaligus mendukung target pemerintah dalam menciptakan jaringan logistik yang lebih tangguh, kompetitif, dan mampu menarik investasi baru ke berbagai daerah.

Melalui sinergi antara pemerintah, BUMN, pelaku industri, penyedia jasa logistik, dan komunitas rantai pasok, pengembangan holding kawasan industri diharapkan tidak hanya menghasilkan efisiensi ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan rantai pasok nasional dalam menghadapi berbagai tantangan global di masa depan.

post : iarsi.org