ilustrasi by: iarsi.org - AI


Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai peningkatan kinerja angkutan barang berbasis kereta api yang ditunjukkan oleh PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) pada Triwulan I 2026 menjadi sinyal positif bagi penguatan ketahanan rantai pasok nasional. Di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, moda transportasi kereta api dinilai semakin strategis dalam menjamin kelancaran distribusi barang, efisiensi biaya logistik, dan keandalan pasokan industri.

Berdasarkan laporan perusahaan, KAI Logistik berhasil mengelola sekitar 3,6 juta ton angkutan barang pada Triwulan I 2026. Pertumbuhan paling menonjol terjadi pada layanan peti kemas yang meningkat 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan meningkatnya kepercayaan dunia usaha terhadap transportasi logistik berbasis rel.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa transportasi rel tidak lagi sekadar menjadi alternatif, melainkan telah berkembang menjadi salah satu tulang punggung rantai pasok nasional.

“Ketika dunia menghadapi gangguan rantai pasok, kenaikan biaya energi, dan risiko kemacetan distribusi, moda kereta api menawarkan keunggulan berupa kepastian waktu, kapasitas besar, efisiensi energi, serta tingkat keselamatan yang tinggi. Ini menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan rantai pasok nasional,” ujarnya.

Menurut IARSI, pertumbuhan angkutan peti kemas melalui jalur rel menunjukkan adanya pergeseran pola distribusi menuju sistem logistik yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan agenda pemerintah untuk menurunkan biaya logistik nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri Indonesia.

Direktur Utama KAI Logistik, Yuskal Setiawan, sebelumnya menyampaikan bahwa perusahaan terus berfokus pada inovasi layanan dan optimalisasi kapasitas angkut guna memastikan setiap segmen bisnis memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan rantai pasok nasional.

IARSI juga menyoroti bahwa keberhasilan pengembangan logistik berbasis rel harus didukung oleh integrasi antarmoda yang lebih kuat, terutama dengan pelabuhan, kawasan industri, pusat distribusi, dan jaringan jalan nasional. Tanpa konektivitas yang baik, potensi efisiensi dari moda kereta api tidak akan optimal.

Pengamat transportasi dan logistik, Acuviarta Kartabi, dalam berbagai kesempatan juga menekankan pentingnya integrasi moda kereta api dengan simpul-simpul logistik nasional agar distribusi barang dapat berlangsung lebih efisien dan kompetitif.

IARSI menambahkan bahwa sektor manufaktur, pangan, energi, hingga perdagangan elektronik (e-commerce) akan memperoleh manfaat besar apabila jaringan logistik berbasis rel terus diperluas. Selain mengurangi ketergantungan terhadap angkutan jalan raya, pengembangan kereta barang juga berpotensi menekan emisi karbon dan mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.

Presiden RI Prabowo Subianto sendiri menargetkan percepatan pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan sektor produksi, distribusi, dan penciptaan lapangan kerja. Dalam konteks tersebut, IARSI menilai keberadaan sistem logistik yang efisien dan tangguh menjadi prasyarat utama agar berbagai program pembangunan dapat berjalan optimal.

Karena itu, IARSI mengusulkan agar pemerintah mempercepat pembangunan koridor kereta logistik nasional yang menghubungkan kawasan industri, sentra pangan, pelabuhan utama, dan pusat konsumsi. Organisasi ini juga mendorong pembentukan National Supply Chain Control Tower guna memantau pergerakan barang secara real time dan meningkatkan koordinasi antar pemangku kepentingan.

“Peningkatan volume angkutan kereta api menunjukkan bahwa Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk membangun sistem logistik modern. Tantangannya sekarang adalah memastikan seluruh moda transportasi terhubung dalam satu ekosistem rantai pasok yang efisien, tangguh, dan berdaya saing global,” tegas IARSI.

IARSI meyakini bahwa penguatan logistik berbasis rel akan menjadi salah satu kunci penting dalam mendukung target penurunan biaya logistik nasional, memperkuat ketahanan pasokan, serta mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat manufaktur dan distribusi kawasan Asia Tenggara pada masa mendatang.


post: iarsi.org