Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyebut hilirisasi nikel menghubungkan Maluku Utara dengan rantai pasok global kendaraan listrik dan baja tahan karat.


Bekasi – Program hilirisasi nikel terus menunjukkan dampak signifikan terhadap transformasi ekonomi Maluku Utara. Kebijakan yang mendorong pengolahan mineral di dalam negeri tersebut tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas nikel, tetapi juga membawa provinsi tersebut masuk ke dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menyatakan bahwa hilirisasi telah mengubah struktur ekonomi daerah secara fundamental. Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada tahun sebelumnya tercatat mencapai sekitar 34 persen, sementara pada triwulan pertama 2026 masih tumbuh sebesar 19,6 persen. Capaian tersebut menempatkan Maluku Utara sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh berkembangnya kawasan industri terpadu seperti Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) yang mengintegrasikan aktivitas pertambangan, pengolahan nikel, hingga produksi bahan baku baterai kendaraan listrik dan baja nirkarat. Kehadiran kawasan industri tersebut menjadikan Maluku Utara semakin terhubung dengan rantai pasok mineral kritis dunia yang menopang transisi energi global.

Selain menarik investasi dalam jumlah besar, hilirisasi juga mendorong pembangunan infrastruktur dan membuka lapangan kerja baru. Dengan kontribusi yang diperkirakan mencapai sekitar seper tujuh produksi nikel dunia, Maluku Utara kini memiliki posisi strategis dalam industri kendaraan listrik global.

Meski demikian, pemerintah daerah menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan investasi. Manfaat ekonomi harus dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat melalui peningkatan keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penguatan sektor pertanian dan perikanan, serta penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan.

Menanggapi perkembangan tersebut, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai keberhasilan Maluku Utara masuk ke dalam rantai pasok global EV merupakan bukti bahwa kebijakan hilirisasi telah membawa Indonesia melampaui peran sebagai eksportir bahan mentah dan mulai menjadi bagian dari jaringan manufaktur global.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., mengatakan daya saing industri nikel Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan mineral maupun kapasitas smelter, tetapi juga oleh kemampuan membangun rantai pasok yang efisien dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, biaya logistik yang kompetitif, konektivitas pelabuhan, integrasi transportasi multimoda, serta digitalisasi rantai pasok menjadi faktor penting agar produk hilirisasi Indonesia mampu bersaing di pasar internasional.

"Hilirisasi sebagai langkah yang tepat, namun tahap berikutnya adalah memperkuat integrasi rantai nilai. Indonesia tidak boleh berhenti pada produksi bahan antara atau material baterai, tetapi harus terus bergerak menuju manufaktur bernilai tambah tinggi sehingga manfaat ekonomi dan penyerapan tenaga kerja semakin besar," ujarnya.

Keberhasilan hilirisasi harus diikuti dengan penguatan ekosistem industri secara menyeluruh. Integrasi antara kawasan industri, pelabuhan, jaringan logistik, pemasok lokal, hingga industri manufaktur lanjutan menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Selain itu, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi. Salah satunya adalah meningkatnya tuntutan standar keberlanjutan dan Environmental, Social, and Governance (ESG) dari pasar internasional. Industri nikel nasional juga dituntut memperkuat tata kelola rantai pasok dan memenuhi standar audit global yang semakin ketat.

Tantangan lainnya adalah kebutuhan pembangunan infrastruktur logistik di kawasan timur Indonesia agar arus bahan baku, produk antara, dan produk jadi dapat berjalan lebih efisien. Di sisi lain, diversifikasi pasar dan pengembangan industri hilir lanjutan dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi permintaan global kendaraan listrik.

Beniadi Setiawan meyakini bahwa apabila integrasi rantai pasok, infrastruktur logistik, dan standar keberlanjutan dapat diperkuat secara konsisten, Maluku Utara berpotensi berkembang tidak hanya sebagai pusat produksi nikel dunia, tetapi juga menjadi hub industri mineral kritis dan baterai kendaraan listrik di kawasan Asia Pasifik.

Dengan momentum hilirisasi yang terus berkembang, Maluku Utara kini berada pada posisi strategis untuk menjadi salah satu motor penggerak industrialisasi nasional sekaligus pemain penting dalam rantai pasok global energi bersih masa depan.


post : iarsi.org