Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masuk ke dalam rantai pasok industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) merupakan langkah strategis untuk memperluas keterlibatan usaha lokal dalam sektor ekonomi bernilai tinggi.
Menurut IARSI, industri MICE tidak hanya menjadi penggerak sektor pariwisata dan perhotelan, tetapi juga menciptakan permintaan yang luas terhadap berbagai produk dan jasa pendukung, mulai dari katering, percetakan, kerajinan, fesyen, perlengkapan pameran, teknologi digital, hingga layanan logistik dan transportasi.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D.,CMI.,CITS., menegaskan bahwa keberhasilan integrasi UMKM ke dalam rantai pasok industri MICE harus dipandang sebagai bagian dari transformasi rantai pasok nasional, bukan sekadar program pemberdayaan usaha kecil.
“Industri MICE merupakan contoh nyata bagaimana rantai pasok lokal dapat terhubung langsung dengan pasar nasional bahkan global. Namun agar UMKM benar-benar menjadi bagian dari ekosistem tersebut, mereka harus mampu memenuhi standar kualitas, menjaga kapasitas produksi, serta menjamin ketepatan pengiriman dan konsistensi layanan,” ujarnya.
IARSI menilai industri MICE memiliki efek berganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap perekonomian. Setiap penyelenggaraan konferensi, pameran, maupun event berskala nasional dan internasional akan memicu permintaan dari berbagai sektor usaha secara bersamaan.
Dalam konteks tersebut, keberadaan lebih dari 421 ribu pelaku usaha yang tergabung dalam ekosistem Jakpreneur menjadi modal penting bagi Jakarta untuk membangun basis pemasok lokal yang mampu mendukung kebutuhan industri MICE secara berkelanjutan.
Meski demikian, IARSI mengingatkan bahwa peluang besar tersebut juga diikuti sejumlah tantangan. Salah satu yang paling krusial adalah kemampuan UMKM menjaga konsistensi dan keandalan pasokan.
Menurut IARSI, dalam industri MICE keterlambatan pengiriman, ketidaksesuaian spesifikasi produk, maupun keterbatasan kapasitas produksi dapat berdampak langsung terhadap keberhasilan sebuah acara. Oleh karena itu, pelaku UMKM perlu mulai menerapkan praktik manajemen rantai pasok yang lebih profesional dan terukur.
IARSI mengidentifikasi setidaknya empat aspek utama yang perlu diperkuat oleh UMKM untuk dapat bersaing dalam rantai pasok MICE.
Pertama, standarisasi kualitas produk dan layanan agar mampu memenuhi kebutuhan penyelenggara acara dan pelanggan korporasi.
Kedua, peningkatan kapasitas produksi berbasis perencanaan permintaan sehingga mampu mengantisipasi lonjakan kebutuhan saat event berlangsung.
Ketiga, digitalisasi pengelolaan pesanan, inventori, dan distribusi untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Keempat, penguatan kolaborasi logistik guna memastikan ketepatan waktu pengiriman dan mengurangi risiko gangguan rantai pasok.
“IARSI memandang digitalisasi menjadi fondasi penting dalam integrasi UMKM ke rantai pasok MICE. Dengan sistem digital, proses pengadaan menjadi lebih transparan, pelacakan pesanan lebih akurat, dan koordinasi antar pelaku usaha dapat dilakukan secara lebih efisien,” jelasnya.
Lebih lanjut, IARSI menilai industri MICE dapat menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk naik kelas dan menembus rantai pasok yang lebih luas, termasuk rantai pasok korporasi, BUMN, maupun pasar ekspor. Pengalaman menjadi pemasok dalam kegiatan berskala nasional dan internasional akan meningkatkan kredibilitas serta daya saing pelaku usaha lokal.
Untuk memastikan program ini memberikan dampak jangka panjang, IARSI merekomendasikan pembentukan database pemasok UMKM terintegrasi, penerapan program sertifikasi dan standardisasi, pengembangan pusat konsolidasi logistik UMKM, penggunaan platform digital procurement, serta peningkatan pelatihan manajemen rantai pasok bagi pelaku usaha.
“IARSI mendukung penuh langkah Pemprov DKI Jakarta. Namun keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari banyaknya UMKM yang terlibat, melainkan dari kemampuan mereka menjadi pemasok yang andal, efisien, dan berstandar tinggi. Jika kualitas, kapasitas, dan digitalisasi terus diperkuat, industri MICE dapat menjadi salah satu jalur tercepat bagi UMKM Indonesia untuk naik kelas dan masuk ke rantai pasok nasional maupun global,” tutupnya.
post: iarsi.org