ilustrasi
 

Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) memprediksi persaingan rantai pasok global akan semakin ketat memasuki Semester II tahun 2026. Dinamika geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan internasional, pergeseran pusat produksi global, hingga tuntutan digitalisasi menjadi faktor utama yang membentuk lanskap baru rantai pasok dunia. 

Ketua Umum IARSI,  Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D.,CMI.,CITS.,  mengatakan bahwa perusahaan dan negara yang mampu membangun rantai pasok tangguh, adaptif, dan berbasis teknologi akan memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan pihak yang masih mengandalkan pola lama yang hanya berorientasi pada efisiensi biaya.

"Memasuki Semester II 2026, persaingan tidak lagi sekadar pada produk dan harga, tetapi pada kemampuan mengelola rantai pasok yang tangguh, cepat, transparan, dan berkelanjutan. Negara yang mampu menjamin kelancaran arus barang dan pasokan bahan baku akan menjadi pemenang dalam kompetisi ekonomi global," ujar Beniadi.

Menurut IARSI, berbagai indikator global menunjukkan bahwa ketidakpastian perdagangan masih tinggi. Laporan Thomson Reuters Global Trade Report 2026 mencatat isu rantai pasok kini menjadi prioritas utama bagi 68 persen pelaku perdagangan dunia, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan global juga mulai melakukan diversifikasi pemasok, relokasi produksi, dan memperkuat visibilitas rantai pasok untuk mengurangi risiko gangguan.

Selain itu, kebijakan Uni Eropa yang tengah menyiapkan regulasi diversifikasi sumber pasokan strategis sebagai bagian dari strategi "de-risking" terhadap ketergantungan pada satu negara pemasok menunjukkan bahwa persaingan perebutan sumber daya dan bahan baku kritis akan semakin intensif pada paruh kedua tahun ini. 

Geopolitik Masih Menjadi Ancaman

IARSI menilai meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya menghilangkan risiko terhadap rantai pasok global. Meski lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz mulai kembali normal, pelaku industri masih menghadapi ketidakpastian akibat potensi gangguan energi, biaya logistik, dan fluktuasi harga komoditas.

Ekonom dan pengamat perdagangan internasional menyebut bahwa perusahaan global saat ini mulai beralih dari strategi "just in time" menuju "just in case", yakni menyiapkan cadangan pasokan lebih besar guna mengantisipasi gangguan mendadak.

Presiden Direktur lembaga riset ekonomi dan logistik independen, Toto Dirgantoro, menilai tren tersebut akan memicu persaingan baru antarnegara dalam menyediakan infrastruktur logistik yang andal.

"Ketahanan rantai pasok kini menjadi bagian dari daya saing nasional. Investor tidak hanya melihat biaya produksi, tetapi juga kecepatan distribusi, kepastian regulasi, dan kualitas infrastruktur logistik," ujarnya.

Indonesia Punya Peluang Besar

Di tengah meningkatnya persaingan global, IARSI melihat Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dari konfigurasi rantai pasok dunia. Posisi geografis strategis, potensi pasar domestik yang besar, program hilirisasi industri, serta pembangunan infrastruktur logistik menjadi modal penting untuk menarik investasi baru.

Namun demikian, IARSI mengingatkan bahwa peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila Indonesia terus mempercepat reformasi logistik nasional, menurunkan biaya logistik, memperkuat integrasi pelabuhan dan kawasan industri, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor rantai pasok.

"Indonesia harus bergerak lebih cepat. Persaingan investasi manufaktur dan logistik di kawasan ASEAN akan semakin ketat. Negara yang mampu menyediakan ekosistem rantai pasok paling efisien akan menjadi tujuan utama investor global," kata Beniadi.

Digitalisasi Menjadi Kunci

IARSI juga menyoroti semakin besarnya peran teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) dalam pengelolaan rantai pasok modern. Berbagai perusahaan global kini memanfaatkan AI untuk memprediksi permintaan pasar, mengelola inventori, mengoptimalkan distribusi, hingga memitigasi risiko gangguan pasokan.

Pengamat ekonomi digital Bhima Yudhistira menilai transformasi digital akan menjadi pembeda utama antara perusahaan yang mampu bertahan dan yang tertinggal dalam persaingan global.

"Ke depan, kecepatan pengambilan keputusan berbasis data akan menentukan daya saing. Digitalisasi rantai pasok bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan," ujarnya.

IARSI: Saatnya Beralih dari Efisiensi ke Resiliensi

IARSI menyimpulkan bahwa Semester II 2026 akan menjadi periode penting bagi transformasi rantai pasok global. Perusahaan dan negara dituntut tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga membangun ketahanan terhadap berbagai risiko yang semakin kompleks, mulai dari geopolitik, perubahan iklim, hingga gangguan perdagangan internasional.

"Era rantai pasok yang hanya mengejar biaya murah telah berakhir. Kini yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara efisiensi, ketahanan, keberlanjutan, dan kemampuan beradaptasi. Itulah kunci memenangkan persaingan global ke depan," tutup Beniadi.


post: iarsi.org