Bekasi – Terbentuknya konektivitas logistik antara PT Belawan New Container Terminal (BNCT), Penang Port Sdn. Bhd., dan Perlis Inland Port di Malaysia dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun koridor perdagangan baru yang menghubungkan Sumatera dengan Malaysia, Thailand, hingga kawasan Asia Timur.

Kerja sama tersebut ditandai melalui penandatanganan Nota Kolaborasi (Memorandum of Collaboration/MoC) yang berlangsung di Perlis Inland Port, Malaysia, bertepatan dengan peresmian Kawasan Perdagangan Bebas Tuanku Syed Sirajuddin. Inisiatif ini diharapkan mampu memperkuat konektivitas logistik regional sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok kawasan ASEAN.

Dalam skema kerja sama tersebut, BNCT Belawan akan berfungsi sebagai gerbang utama distribusi barang dari Sumatera, Penang Port sebagai pusat transshipment atau alih muat, sedangkan Perlis Inland Port menjadi penghubung logistik darat menuju Thailand dan negara-negara Asia Tenggara lainnya hingga Asia Timur, termasuk Tiongkok.

Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menyambut positif kolaborasi tersebut dan menilai bahwa koridor Belawan–Penang–Perlis berpotensi menjadi jalur logistik alternatif yang mampu memperkuat daya saing perdagangan regional.

Menurut IARSI, kerja sama ini mencerminkan semakin pentingnya pendekatan rantai suplai yang terintegrasi dalam menghadapi dinamika perdagangan global, perubahan pola distribusi, serta tuntutan efisiensi biaya logistik lintas negara.

"Koridor Belawan–Penang–Perlis membuka peluang besar bagi Indonesia, khususnya Sumatera, untuk terhubung lebih efektif dengan jaringan perdagangan regional dan global. Ini bukan hanya soal konektivitas pelabuhan, tetapi juga tentang membangun ekosistem rantai pasok yang lebih tangguh dan kompetitif," ujar IARSI dalam tanggapannya.

Dari perspektif rantai suplai, IARSI menilai terdapat sejumlah manfaat strategis yang dapat diperoleh. Pertama, peningkatan efisiensi logistik melalui jalur distribusi yang lebih pendek dibandingkan rute konvensional melalui Singapura. Jalur Belawan–Penang yang berjarak sekitar 255 kilometer dan dilanjutkan ke Perlis Inland Port sejauh 133 kilometer dinilai mampu memangkas waktu pengiriman serta menurunkan biaya transportasi.

Kedua, kehadiran koridor baru ini akan mendukung diversifikasi jalur perdagangan sehingga mengurangi ketergantungan terhadap satu hub logistik tertentu. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan rantai pasok kawasan dalam menghadapi gangguan operasional maupun tantangan geopolitik global.

Ketiga, kerja sama ini berpotensi memperkuat implementasi Indonesia–Malaysia–Thailand Growth Triangle (IMT-GT) melalui peningkatan arus perdagangan, investasi, dan pengembangan industri pendukung logistik di kawasan.

Selain itu, komitmen ketiga pihak untuk mengintegrasikan sistem digital logistik dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan visibilitas rantai pasok yang lebih baik, transparansi data, serta percepatan layanan logistik lintas batas negara.

Meski demikian, IARSI mengingatkan bahwa keberhasilan koridor logistik baru tersebut memerlukan dukungan berbagai pihak. Harmonisasi prosedur kepabeanan, sinkronisasi regulasi lintas negara, penguatan infrastruktur hinterland, peningkatan kapasitas sumber daya manusia logistik, serta implementasi platform digital yang interoperabel menjadi faktor penting yang harus dipenuhi.

IARSI juga mendorong agar kolaborasi yang telah dituangkan dalam memorandum kerja sama segera ditindaklanjuti melalui program implementasi yang terukur dan berkelanjutan. Keterlibatan pemerintah, pelaku usaha, asosiasi logistik, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya dinilai menjadi kunci untuk memastikan manfaat ekonomi dari koridor tersebut dapat dirasakan secara nyata.

Dengan posisi strategis Sumatera yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka, koridor Belawan–Penang–Perlis diyakini dapat menjadi pintu gerbang logistik baru ASEAN. Tidak hanya mempercepat arus perdagangan regional, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan rantai pasok global yang semakin kompetitif.

Bagi Indonesia, khususnya wilayah Sumatera, kerja sama ini membuka peluang untuk meningkatkan ekspor komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kopi, kakao, teh, dan produk pertanian lainnya ke pasar regional maupun Asia Timur melalui jalur yang lebih efisien dan kompetitif.

Koridor ini pada akhirnya tidak hanya menjadi penghubung fisik antarwilayah, tetapi juga simbol semakin eratnya integrasi ekonomi kawasan yang bertumpu pada kolaborasi, konektivitas, dan ketahanan rantai pasok regional.

post: iarsi.org