Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai proyeksi pertumbuhan pasar logistik ASEAN hingga mencapai US$390 miliar pada 2030 menjadi sinyal kuat bahwa kawasan Asia Tenggara akan semakin strategis dalam peta rantai pasok global. Indonesia dinilai memiliki peluang terbesar untuk menjadi pusat logistik regional apabila mampu mempercepat reformasi sektor logistik, digitalisasi, serta peningkatan kualitas infrastruktur.
Proyeksi tersebut mengemuka dalam forum ASEAN Federation of Forwarders Associations (AFFA) Council Mid-Year Meeting 2026 di Batam. Nilai pasar freight dan logistik ASEAN diperkirakan meningkat dari sekitar US$288 miliar pada 2025 menjadi US$390 miliar pada 2030, didorong pertumbuhan perdagangan intra-ASEAN, ekspansi e-commerce, serta kebutuhan terhadap rantai pasok yang semakin tangguh dan terintegrasi.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D.,CMI.,CMT., menilai momentum tersebut harus dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat daya saing nasional.
"Pertumbuhan pasar logistik ASEAN bukan sekadar peluang bisnis, tetapi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai hub rantai pasok kawasan. Keunggulan geografis Indonesia harus diimbangi dengan efisiensi logistik, digitalisasi layanan, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia," ujar Ketua Umum IARSI.
Menurut IARSI, transformasi rantai pasok global pascapandemi, dinamika geopolitik, serta perubahan pola perdagangan internasional membuat perusahaan semakin mencari jaringan distribusi yang lebih dekat, tangguh, dan efisien. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menarik investasi di sektor logistik, pergudangan, manufaktur, dan distribusi regional.
IARSI menilai penguatan konektivitas antarpulau, modernisasi pelabuhan, integrasi sistem logistik nasional, serta percepatan implementasi platform digital logistik menjadi faktor penting agar Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya.
Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, sebelumnya juga menekankan bahwa peningkatan efisiensi logistik menjadi salah satu prasyarat utama untuk memperkuat daya saing industri nasional dan menarik investasi manufaktur berorientasi ekspor.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem logistik melalui pembangunan infrastruktur, digitalisasi layanan, serta integrasi rantai pasok nasional guna meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.
IARSI menambahkan bahwa pertumbuhan pasar logistik ASEAN juga akan meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja yang memiliki kompetensi di bidang supply chain management, data analytics, transportasi multimoda, hingga teknologi digital logistik. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan pelaku industri perlu terus diperkuat.
"IARSI memandang keberhasilan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga oleh kemampuan membangun ekosistem rantai pasok yang terintegrasi, adaptif, dan berbasis teknologi. Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, Indonesia berpeluang menjadi pemain utama dalam jaringan logistik ASEAN selama dekade mendatang," tutup Ketua Umum IARSI.
Forum AFFA di Batam sendiri mengangkat tema Strengthening ASEAN Logistics Connectivity through Trade Facilitation, Digitalization, Security, and Capacity Development, yang menegaskan pentingnya kolaborasi antarnegara ASEAN dalam memperkuat konektivitas logistik, mempercepat digitalisasi, meningkatkan keamanan rantai pasok, dan mengembangkan kapasitas sumber daya manusia menghadapi dinamika perdagangan global.
post : iarsi.org
